Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wabah Monkeypox, Ini Saran Dosen Kedokteran Brawijaya bagi Masyarakat

Gejala cacar monyet manusia mirip dengan gejala cacar air pada umumnya, tetapi cenderung lebih ringan.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 28 Juli 2022  |  16:32 WIB
Wabah Monkeypox, Ini Saran Dosen Kedokteran Brawijaya bagi Masyarakat
Dr. dr. Dhelya Widasmara, SpKK (K), dokter kulit dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Masyarakat tidak perlu panik namun tetap perlu waspada terkait dengan munculnya Monkeypox di berbagai negara.

Dr. dr. Dhelya Widasmara, SpKK (K), dokter kulit yang berfokus pada infeksi tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, menegaskan hal terkait munculnya wabah penyakit tersebut, Kamis (28/7/2022).

“Yang pertama dan paling penting adalah jangan panik. Kedua, pastikan anak kita telah mendapatkan vaksinasi, dalam hal ini vaksin program pemberantasan cacar (smallpox) yang dapat memberikan perlindungan terhadap Monkeypox,” katanya.

Selain itu, kata dia, selalu menjaga daya tahan tubuh yang kuat dengan istirahat yang cukup, pola hidup sehat, dan kurangi stress dan selalu berdoa kepada Tuhan YME.

Gejala cacar monyet manusia mirip dengan gejala cacar air pada umumnya, tetapi cenderung lebih ringan. Adapun yang membedakan pada cacar monyet didapatkan pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati).

Monkeypox tanda dan gejalanya yang muncul bergantung pada fase penyakit ini, yang pertama fase prodromal (yang menunjukkan gejala). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Kemenkes menyebut, gejala awal pada fase prodromal a.l penderita akan mengalami demam yang disertai dengan sakit kepala yang terkadang terasa hebat, nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) yang dirasakan di leher, ketiak, atau di area selangkangan, badan panas dingin bahkan kelelahan dan lemas.

Sedangkan pada fase erupsi terjadi saat 1-3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah fase prodromal. Pada fase erupsi timbul ruam atau lesi pada kulit. Biasanya, ruam atau lesi ini dimulai dari wajah, lalu menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap, terangnya.

Kemudian, ruam atau lesi pada kulit ini akan berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (maculopapular), lepuh yang berisi cairan bening atau nanah, lalu mengeras atau keropeng hingga akhirnya rontok. Gejala cacar monyet akan berlangsung selama 2−4 minggu sampai periode lesi/ruam kulit tersebut menghilang.

Menurut dia, penularan virus Monkeypox terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan hewan, manusia, atau bahan yang terjangkit atau terkontaminasi virus. Kemudian virus masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit atau luka yang sangat kecil, walaupun tidak terlihat, saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

Sedangkan penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, kontak langsung dengan cairan tubuh atau material dari lesi, seperti darah, atau kontak tidak langsung, seperti melalui alas yang terkontaminasi.

Penularan antar manusia, kata alumni FKUB ini, diperkirakan terjadi terutama melalui droplet (percikan) pernapasan. Percikan droplet tidak dapat bertahan lama dan terbang jauh, maka diperlukan kontak tatap muka yang lama.

Metode penularan dari manusia ke manusia lainnya termasuk kontak langsung dengan cairan tubuh atau material dari lesi, dan kontak tidak langsung dengan material lesi, seperti melalui pakaian atau linen yang terkontaminasi.

Dokter Lala, sapaan akrabnya, menyebutkan Monkeypox jenis penyakit yang bisa sembuh sendiri. Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi virus Monkeypox, sehingga pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

Penanganan awal yang dapat dilakukan di rumah apabila muncul tanda dan gejala serta terdapat riwayat kontak dengan penderita Monkeypox, yakni pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi serta istirahat total (bed rest).

Juga makan makanan yang bergizi, maksimalkan asupan cairan, banyak minum air putih; apabila demam dapat diberikan obat penurun panas, apbila muncul ruam seperti lentingan berisi air, jangan digaruk atau dipecah.

Untuk mengurangi rasa gatal, dapat dikompres dengan kassa dan cairan infus serta mengkonsumsi obat antihistamin, sedangkan orang yang harus dipertimbangkan untuk perawatan lebih lanjut yaitu orang dengan gejala berat / parah (misalnya, sepsis, ensefalitis, atau kondisi lain yang memerlukan rawat inap).

Menurut dia golongan yang mungkin berisiko tinggi terkena mengalami gejala berat di atas, yakni orang dengan kondisi immunocompromise, misalnya, infeksi HIV/AIDS leukemia, limfoma, keganasan, transplantasi organ, konsumsi kortikosteroid dosis tinggi, atau memiliki penyakit autoimun.

Juga populasi anak-anak, terutama pasien berumur kurang dari 8 tahun, wanita hamil atau menyusui, orang dengan satu atau lebih komplikasi misalnya, infeksi kulit bakteri sekunder; gastroenteritis dengan mual/muntah yang parah, diare, atau dehidrasi; bronkopneumonia; penyakit bersamaan atau komorbiditas lainnya.

Dia menegaskan pula, Monkeypox merupakan penyakit bergejala ringan dengan tingkat kematian sangat rendah. Gejala-gejala penyakit pada umumnya dari Monkepox dapat diobati dan dapat sembuh dengan sendirinya tergantung imunitas penderita.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada laporan Monkeypox di Indonesia, termasuk Malang. Negara di luar Afrika yang pernah melaporkan kasus monkeypox pada manusia terkait riwayat perjalanan dari negara endemis atau hewan impor, yakni Amerika Serikat (2003), Inggris, Israel (2018) dan Singapura (2019). Pada 7 Mei 2022 Inggris Raya juga melaporkan adanya 1 (satu) kasus monkeypox pada warga Inggris yang memiliki perjalanan dari Nigeria.

“Walaupun kasus Monkeypox belum dilaporkan di Indonesia dan bukan sebagai negara endemis dari penyakit ini, kewaspadaan perlu ditingkatkan, mengingat sudah banyak orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, serta negara kita merupakan rumah dari berbagai hewan yang dapat menjadi sumber penularan dari virus ini,” ucapnya.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus Monkeypox dan ditemukan di sekitar, kata dia, yakni menghindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi sarang virus (termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).

Juga menghindari kontak dengan bahan apapun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit, membatasi konsumsi dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik, maupun daging yang diburu dari hewan liar (bush meat).

Selain itu, memisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi, melakukan kebersihan tangan yang baik setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol.

“Untuk tenaga kesehatan, jangan lupa untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien. Bila mengalami tanda dan gejala Monkeypox agar lapor ke fasilitas kesehatan terdekat untuk dapat dicatat,” ucapnya. (K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Monkeypox Cacar monyet wabah
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top