Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelajah Kopi Jatim 2022, Sukses Gaet Pelanggan Premium Lewat Medsos

Petani kopi di dusun yang terletak di ketinggian 650-800 mdpl mulanya bertani berdasar ilmu turun temurun. Komoditasnya berupa kopi robusta.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 07 Juli 2022  |  06:29 WIB
Jelajah Kopi Jatim 2022, Sukses Gaet Pelanggan Premium Lewat Medsos
Marliadi, pengelola Joglo Kopi, Desa Wisata Ampelgading, Tirtoyudo (kanan) berbincang dengan Sutomo, Ketua Kelompok Tani Hidup Makmur di Ampelgading, Malang, Jatim, Senin (5/7 - 2022).

Bisnis.com, SURABAYA - Aroma wangi bunga kopi meruap saat kami melintasi Dusun Arjoyoso, Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Selasa (5/7/2022) petang.

Lahan di sisi kiri-kanan jalan utama dusun memang banyak terdapat pertanaman kopi, tampak berjajar, cabang pohon-pohonnya panjang rimbun seolah menjangkau tanaman sebelahnya. Bunga dengan kelopak putih tampak menghias cabang-cabang itu.

Tanaman kopi robusta di daerah Ampelgading memang jadi ciri khas. Sejak zaman kolonial Belanda, tepatnya pada 1826 dikembangkan perkebunan kopi di daerah ini. Usaha berkebun kopi itulah yang bertahan hingga kini. Dilestarikan dan jadi salah satu sumber penghasilan masyarakat sekitar.

"Kalau kebun Belanda sudah tidak ada. Sudah dikelola masyarakat setempat," kata Marliadi, pengelola Joglo Kopi, Desa Wisata Ampelgading, Tirtoyudo.

Petani kopi di dusun yang terletak di ketinggian 650-800 mdpl mulanya bertani berdasar ilmu turun temurun. Komoditasnya berupa kopi robusta. Belakangan mereka membentuk Kelompok Tani Hidup Makmur.

Total lahan pertanaman kopi kelompok beranggotakan 26 orang ini sebanyak 20 ha. Produksi rata-rata 1,5 ton per hektare. Produksi utamanya kopi robusta berlabel Margading, kopi dengan cupping 76,91 dengan nilai very good.

"Masuknya ke medium to dark untuk rasanya. Itu penilaian pada 2020 dari lembaga asal Singapura," ujar Sutomo, Ketua Kelompok Tani Hidup Makmur.

Biji kopi Robusta Premium Margading yang telah disangrai./Bisnis-Andik S.

Daerah Ampelgading terletak di Malang sisi selatan, di lereng perbukitan bagian dari pegunungan Semeru. Tanaman kopi banyak dikembangkan petani di kawasan ini. Salah satu nama dagang yang cukup dikenal kopi dampit.

Dampit merupakan nama Kecamatan, memiliki sebuah pasar, tempat banyak pengepul biji kopi menjalankan bisnis. Tempat para petani di kawasan Malang selatan menjual hasil kebunnya. Nama daerah ini juga digunakan sebagai nama kopi dan produk turunannya.

Adapula sebuah perusahaan eksportir kopi di kawasan tersebut. Mereka menampung kopi dari petani pula. Penilaiannya (grading) dan harga sesuai dengan standar pabrik.

Petani di Arjoyoso, Ampelgading, dalam perkembangannya enggan di bawah bayang-bayang nama Dampit. Alhasil dibikinlah brand/merek Margading yang disematkan terhadap biji kopi mentah (green bean), biji yang sudah disangrai (roast bean) maupun bubuk kopi.

Kelebihan memiliki merek sendiri, petani akhirnya melakukan seleksi kualitas biji kopi. Ada yang petik merah, petik pelangi, seleksi kopi lanang, termasuk mengidentifikasi asal lahan. Tujuannya biar mendapat kualitas premium.

"Jadi sekarang Margading memperkenalkan diri sebagai kopi Robusta Premium," kata Sutomo diamini Marliadi.

Label premium disematkan karena dipetik dari biji merah, disortir yang tenggelam di air, kemudian diolah lebih lanjut. Kopi pilihan ini lantas dijual ke pelanggan, ada yang ke pengusaha pensangrai maupun cafe.

Mesin pengolahan biji kopi di Joglo Kopi, di Dusun Wisata Ampelgading, Tirtoyudo./Bisnis-Andik S.

Sutomo mengatakan pasar merespons positif langkah Kelompok Tani Hidup Makmur. Sebuah cafe di Surabaya misalnya, rutin mengambil satu kuintal per bulan. Adapula perusahaan pesangrai di Sidoarjo yang bisa menyerap lima ton per tahun.

Adapun produk premium bentuk bubuk maupun roast bean juga ada yang dipasok ke cafe seputar Malang Raya. "Jadi bila dilakukan perlakuan sesuai standar yang baik ada nilai lebihnya," jelasnya.

Dia menggambarkan kopi petik asal/campur antara merah dan kuning bisa dijual ose Rp26.000 per kg bisa menjadi Rp30.000 per kilogram bila petik merah. Hasil green bean petik merah juga lebih banyak.

Gambarannya bila petik campur satu kuintal biji mentah bisa menghasilkan 22-23 kg green bean, saat petik merah bisa menghasilkan 25 kg. Bobot petik merah lebih besar.

Sementara untuk memperluas jangkauan pasar, kelompok tani kerap mengikuti pameran kopi. Pengenalan produk juga dilakukan melalui Facebook maupun Instagram. "Seperti pembeli rutin Sidoarjo dan Surabaya mengontak pertama kali melalui IG," jelas pemilik akun IG @sutomo_hidupmakmur.

Media sosial juga jadi etalase pembeli jarak jauh, bahkan luar negeri untuk melihat hasil petani. Meski untuk memenuhi permintaan luar negeri, Sutomo sendiri baru sebatas mengirim sampel ke Malaysia, dan belum berlanjut karena terbentur ongkos kirim.

Guna mengimbangi tren kopi sebagai gaya hidup, Kelompok Tani Hidup Makmur berharap bisa menyusun standar operasional pengolahan kopi. Standar ini harapannya ke depannya bisa diterapkan konsisten di kelompoknya sehingga produksi dan kualitas yang dihasilkan bisa terjaga.

Bisnis Indonesia didukung, Bank Jatim, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, PT Perkebunan Nusantara XII, MPM Honda Jatim, Indosat, Honda Surabaya Center, Perkebunan Kopi Tugu Kawisari Blitar dan Hotel Tugu Malang, Hotel Luminor Sidoarjo dan Banyuwangi, PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, menggelar Jelajah Kopi Jatim 2022 dengan berkunjung ke sentra pengembangan kopi di Jawa Timur, 5-7 Juli. Reportase tim diharapkan bisa menambah informasi dan inspirasi bagi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah Kopi jelajah kopi jatim malang
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top