Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelajah Kopi Jatim 2022, Menggali Lebih Dalam Potensi Tersembunyi

Sebanyak 80 persen kopi di Jatim merupakan robusta. Kopi jenis ini kurang diminati pasar internasional.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 05 Juli 2022  |  13:22 WIB
Jelajah Kopi Jatim 2022, Menggali Lebih Dalam Potensi Tersembunyi
Plt Gubernur Jawa Timur Emil Dardak (tengah) melepas tim Jelajah Kopi Jawa Timur 2022, di Kantor Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Selasa (5/7/2022). Turut mendampingi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Budi Hanoto (dua dari kiri), Kepala Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia Jawa Timur Achmad Faisal Kurniawan (tiga dari kanan) dan Direktur TI & Operasi Bank Jatim Tonny Prasetyo (dua dari kanan). - Bisnis/Andik Susanto

Bisnis.com, SURABAYA - Semakin halus butiran kopi digiling maka rasa pahit akan semakin kuat saat diseduh. Begitu seorang brewer alias peracik kopi manual berbagi tips menggiling biji kopi sebelum diseduh.

Pesan tersebut sedikit banyak menggambarkan kondisi dunia kopi di Jawa Timur. Semakin digali fakta-fakta perihal budi daya tanaman yang termasuk klasifikasi Coffea sp ini, bertambah detail dipelajari, maka ada temuan kisah pahit.

Namun demikian, di balik kepahitan itu, ada potensi yang bisa digarap. Sama seperti kopi, di balik rasa pahit, ada varian rasa lain yang menyertai, menjadikan kopi nikmat selalu dicari. Belakangan, dunia sedang gemar terhadap komoditas ini, yang berarti pasar tersedia, tinggal bagaimana pemangku kebijakan mendorong sektor hulu-hilir kopi berkembang.

Kopi di Jawa Timur dikembangkan perusahaan perkebunan milik negara, swasta maupun petani perorangan. Data Dinas Perkebunan Jatim mencatat pada 2018 total luas areal pertanaman kopi 113.124 hektare dengan produksi 66.618 ton, pada 2019 luas pertanaman 113.332 hektare dengan produksi 68.114 ton. Luas pertanaman tumbuh 0,18 persen dan produksi bertambah 2,25 persen.

Luas lahan kopi di Jatim pada 2020 sebanyak 113.424 ha dengan produksi 68.884 ton. Sedangkan pada 2021 luas lahan 113,470 ha dengan produksi 69.570 ton. Luas lahan tumbuh 0,04 persen dan produksi 1,00 persen.

Dari tersebut terlihat pertumbuhan luas lahan dan produksi melambat. Sementara konsumsi kopi dunia meningkat 2 persen dan konsumsi dalam negeri meningkat 3 persen.

"Konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding pertumbuhan konsumsi dunia," tulis Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian pada road map Industri Pengolahan Kopi.

Berdasar catatan Bisnis, Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Direktorat Jenderal Perkebunan Perkebunan Pertanian, menyebutkan konsumsi kopi domestik naik 13,9 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengonfirmasi kenaikan pengeluaran konsumsen untuk minuman jadi (kopi, kopi susu, teh, dsb), kopi instan (sachet) dan kopi (bubuk, biji) berdasar rata-rata pengeluaran perkapita seminggu di perkotaan.

Tercatat rata-rata konsumsi kopi bubuk dan biji 2020-2021 meningkat hingga 13,9 persen (yoy). Sedangkan fenomena lebih detail, pada kelompok pengeluaran menengah, peningkatan konsumsi bisa meningkat 14,5 persen.

Adapun untuk kopi instan konsumsi rata-rata tumbuh 9,7 persen. Sedangkan untuk minuman jadi tumbuh 6,8 persen.

Dari data tersebut di atas terlihat, laju produksi kopi di tingkat produsen lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi. Oleh karena itu, perlakukan khusus di tingkat hulu perlu dilakukan agar potensi pasar bisa memberi nilai tambah maksimal terhadap ekonomi daerah.

Produksi dan Luas Areal Kopi Jawa Timur

20202021Pertumbuhan (yoy)
Luas (ha)Produksi (ton)Luas (ha)Produksi (ton)Luas areal Produksi 
Kopi113.42468.884113.47069.5700,041,00
Arabica28.11313.98028.23014.4500,423,36
Robusta85.31154.90485.24055.120-0,080,39

Grafis kopi pertanaman dan produksi kopi Jawa Timur. Sumber Dinas Perkebunan Jatim. 

20182019Pertumbuhan (yoy)
Luas (ha)Produksi (ton)Luas (ha)Produksi (ton)Luas areal Produksi
Kopi113.12466.618113.33268.1140,182,25
Arabica28.66513.65028.86713.9520,702,21
Robusta84.45952.96884.46554.1620,012,25

Tantangan Sektor Hulu

Pengembangan produksi kopi di Jawa Timur dilakukan sejak zaman Belanda. Tercatat pada 1890 Gerhard David Birnie menanam kopi di Dataran Tinggi Ijen. Sampai saat ini kopi dari kawasan tinggi ini masuk kategori kopi terbaik.

Berdasar jenis kopi yang ditanam, dari total luasan yang ada, 80 persen kopi di Jatim merupakan robusta. Kopi jenis ini kurang diminati pasar internasional. Harga pasarnya pun setengah dari jenis Arabica yang menjadi komoditas favorit pasar internasional.

Sebagai gambaran, Dinas Perkebunan Jatim mencatat harga Kopi Arabica Ose Rp79.000, sedangkan Robusta Ose Rp36.375 per kg. Sementara Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi mencatat kopi robusta dihargai Rp35.000 per kg cenderung tetap, kopi arabika Rp97.000 per kg (naik 7,8 persen) dan kopi spesial Rp90.000 per kg.

Pemangku kepentingan menyadari ada potensi pengembangan juga intensifikasi kopi, khususnya Arabica. Perkembangannya di Jawa Timur luasan kopi Arabica pada 2020 sebanyak 28.113 ha dengan produksi 13.980 ton, dan pada 2021 luasan pertanaman 28.230 ha produksi 14.450 ton. Luas lahan bertambah 0,42 persen dan produksi meningkat 3,36 persen.

Sedangkan untuk robusta, luasan pertanaman 85.311 ha dengan produksi 54.904 ton pada 2020. Luasan itu menjadi 85.240 ha dengan produksi 55.120 ton pada 2021. Luasan lahan robusta di Jatim turun -0,08 persen dan produksi naik 0,39 persen.

Adapun produktivitas lahan kopi di Jawa Timur kurang dari 1.000 kg per hektare. Sementara di negara lain bisa lebih dari 2.000 kg per hektare.

Tanaman kopi memiliki produksi maksimal pada rentang umur 6 tahun sampai 25 tahun. Pemangku kepentingan biasanya membedakan kondisi tanaman berdasar tiga kategori, TMB immature (tanaman belum menghasilkan), TM mature (tanaman menghasilkan), TTM damaged (tanaman tua/rusak).

Bila merujuk data BPS, pada 2019 tanaman kopi TMB di Jatim sebanyak 14.974 ha, TM sebanyak 68.208 ha, TTM 8.606 ha, total luas pertanaman 91.788 ha. Pada 2020 TBM sebanyak 15.021 ha, TM 68.290 ha, total TTM 7.425 ha, total luas pertanaman 90.735 ha.

Dari data tersebut terlihat fakta, luas pertanaman kopi di Jawa Timur berkurang 1,14 persen, luas tanaman produksi bertambah 0,12 persen. Produktivitas kopi menurun, dari 721 kg/ha pada 2019 menjadi 663 kg/ha pada 2020.

Dalam data BPS tersebut ada perbedaan bila diperbandingkan dengan data yang dipublikasi Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Namun dari data BPS terlihat ada pekerjaan rumah berupa perbaikan tanaman rusak/tua.

Luas Lahan dan Produksi Kopi Jawa Timur Berdasar Pengelolaan Lahan

Status Lahan2017201820192020
 Lahan (ha)Produksi (ton)Lahan (ha)Produksi (ton)Lahan (ha)Produksi (ton)Lahan (ha)Produksi (ton)
Perkebunan Besar Negara21.02513.96817.9181.23912.5545.16812.0363.513
Perkebunan Besar Swasta19.14813.73619.2861.28616.7773.4785.591776
Perkebunan Rakyat66.37237.10064.68828.54072.45740.51173.10840.990
Total106.54564.804101.89263.76091.78849.15790.73545.278

Grafis luas lahan dan produksi kopi di Jawa Timur periode 2017-2020 menunjukkan penurunan luas lahan dan produksi. Sumber data Badan Pusat Statistik. Diolah.

Dampak Ekonomi Kopi

Pengelola kebun kopi di Jawa Timur setidaknya ada tiga, yakini perusahaan negara, perusahaan swasta dan petani rakyat. Perkebunan besar negara di Jatim memiliki 1.430 hektare pertanaman kopi belum menghasilkan, 10.605 ha tanaman kopi menghasilkan, 1 hektare tanaman tua/rusak. Alhasil pada 2020 total lahan kopi perkebunan negara di Jatim 12.036 ha, turun 4,12 persen dari 2019 yang mencapai 12.554 ha. Perkebunan negara memproduksi 3.513 ton kopi dengan produktivitas 331 kg/ha.

Sementara perkebunan swasta di Jatim memiliki 495 ha pertanaman kopi belum produksi, 4.630 ha tanaman produktif, 466 tanaman tua/rusak. Total lahan kopi swasta pada 2020 sebesar 5.591 ha turun 21,2 persen dari 6.777 ha lahan yang dikelola tahun sebelumnya. Produksi perkebunan swasta pada 2020 sebesar 776 ton, dengan produktivitas 168 kg/ha.

Adapun perkebunan rakyat pada 2020 yang belum berproduksi 13.095 ha, berproduksi 53.054 ha, tanaman tua/rusak 6.958 ha. Total lahan kopi rakyat 73.108 ha, naik 0,89 persen dibanding lahan 2018 sebesar 72.2457 ha. Kebun rakyat menghasilkan 40.990 ton kopi, dengan produktivitas 773 kg/ha.

Dari data terlihat potensi pengembangan lahan kopi rakyat terbuka lebar. Meski riilnya kepemilikan lahan rata-rata petani kurang dari 1 hektare. Namun, bila petani berkelompok, berkoperasi maka akan muncul efisiensi dalam proses produksi.

Data Kondisi Pertanaman Kopi Perkebunan Rakyat 2020

Tanaman Belum Menghasilkan (ha)Tanaman Menghasilkan (ha)Tanaman Tua/Rusak (ha) Total (ha)Produksi (ton)Produktivitas (kg/ha)
13.09553.0546.95873.10840.990773 

Grafis kondisi pertanaman kopi perkebunan rakyat. Sumber Badan Pusat Statistik. Diolah

Sektor pertanian/perkebunan dalam struktur ekonomi Jawa Timur sendiri menyumbang 13,36 persen ke pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Dengan melihat data-data di atas, termasuk potensi pengembangannya, maka sektor ini masih cukup menjanjikan ditingkatkan kontribusinya ke perekonomian daerah.

Bisnis Indonesia didukung, Bank Jatim, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, PT Perkebunan Nusantara XII, MPM Honda Jatim, Indosat, Honda Surabaya Center, Perkebunan Kopi Tugu Kawisari Blitar dan Hotel Tugu Malang, Hotel Luminor Sidoarjo dan Banyuwangi, PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, berbekal data-data di atas bakal mengunjungi sentra pengembangan kopi di Jawa Timur, 5-7 Juli. Kami akan ke Jember, Banyuwangi, Malang, Jombang, Blitar untuk melihat lebih dekat dan menceritakan ulang bagaimana pelaku usaha ekonomi berdaya, meningkatkan nilai tambah.

Harapannya kisah Jelajah Kopi Jatim bisa menjadi navigasi bagi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah Kopi kopi jatim Bank Indonesia jember bondowoso banyuwangi malang
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top