Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bisnis Madumongso Kembali Manis

Madumongso dibuat dari ketan juga dicampur antara yang hitam dan putih, sehingga hasilnya bagus.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 07 April 2022  |  16:06 WIB
Bisnis Madumongso Kembali Manis
Binti Solikhah, pemilik usaha jajanan madumongso dan beragam makanan dari bahan baku ketan di Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. - Antara/Asmaul
Bagikan

Bisnis.com, KEDIRI - Produsen madumongso di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, banjir pesanan saat Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri 2022.

Binti Solikhah, pemilik usaha jajanan madumongso di Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri mengaku saat ini untuk proses pengolahan bahan menjadi jajanan madumongso terus dikebut.

"Kalau saat ini sudah lebih dari 1 kuintal membuat madumongso. Kalau hari-hari biasa kurang dari itu," kata Binti Solikhah di Kediri, Kamis (7/4/2022).

Untuk membuat madumongso, Binti mengaku menggunakan resep turun temurun. Ketan juga dicampur antara yang hitam dan putih, sehingga hasilnya bagus.

Setelah dibersihkan dikukus dan dibuat menjadi tapai dan beberapa hari kemudian baru bisa diolah. Olahan itu kemudian dicampur dengan santan, gula dan dimasak di api hingga matang. Setelah masak, baru ditaruh di loyang, menunggu dingin dan siap untuk dibungkus.

Madumongso dijualnya dengan harga terjangkau. Untuk bahan madumongso dari ketan putih dijual seharga Rp60 ribu per kilogram, yang ketan hitam Rp70.000 per kilogram dan yang bungkus warna warni seharga Rp85.000 per kilogram.

Binti mengatakan bisnis olahan beras ketan ini awalnya tidak direncanakan. Ia terinspirasi dari saat bepergian ziarah wali yang selalu ada oleh-oleh jajanan, seperti kue dodol dan selalu laris.

Ia kemudian membicarakan hal itu dengan anaknya dan justru didorong untuk membuat usaha ini. Hingga kini, usaha ini sudah digelutinya tiga tahun.

Binti mengatakan, awalnya ia uji coba pasar dengan membuat madumongso yang diberi merek "Madumongso Bu Binti". Ternyata, madumongso yang dibuatnya mendapatkan sambutan positif, hingga ia akhirnya memutuskan menekuni usaha itu.

Produk utama yang dibuatnya adalah madumongso. Produk ini dibuat karena masa kedaluwarsa yang relatif lebih lama.

Namun, seiring dengan waktu, saat ini beragam olahan jajanan dari bahan baku ketan dibuatnya, seperti jenang, wajik, jadah dan beragam lainnya.

Kini, usahanya juga terus berkembang. Penjualan hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk luar Pulau Jawa.

Saat Ramadhan ini, dirinya hingga menambah jumlah pekerja. Kini, dirinya dibantu hingga 20 orang pekerja, lebih banyak ketimbang jumlah pekerja di hari biasa. Nantinya, satu pekan sebelum Lebaran, juga masih ada tambahan pekerja untuk membuat jenang kawah yang mayoritas laki-laki.

"Jenang itu satu minggu kedaluwarsanya, jadi membuatnya juga mendekati Lebaran. Saya setiap hari selalu stok barang, jadi konsumen bisa membeli yang mereka inginkan," kata dia.

Dirinya mengatakan, saat Lebaran pertama setelah memutuskan membuat usaha ini, jualannya bisa laku hingga 1 ton. Di Lebaran 2021, bisa menjual hingga 2 ton, dan di 2022 ini diharapkan bisa tembus hingga 2,5 ton.

Ia pun tetap optimistis usahanya ini akan terus berlanjut. Madumongso adalah jajanan tradisional yang tetap dicari di setiap waktu, dan bukan hanya untuk suguhan saat Lebaran ataupun ketika ada orang menyelenggarakan pesta seperti pernikahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim kediri lebaran Ramadan idulfitri

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top