Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Garam Jatim Turun 50 Persen

Volume produksi garam yang turun ini telah mendorong kenaikan harga garam petambak yang sempat jatuh di angka Rp300 - Rp350/kg pada Maret lalu.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 29 November 2021  |  14:01 WIB
Petani beraktivitas di sekitar lahan pertanian garam konvensional yang mulai menggunakan teknologi Geomembran di Penggaraman Talise di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (10/10/2021). Petani garam di daerah tersebut mulai memproduksi garam dengan sistem Geomembran atau lapisan lembaran plastik tebal berwarna hitam yang dihamparkan pada lahan garam yang diyakini dapat menghasilkan panas tinggi sehingga meningkatkan produksi dan kualitas garam. - Antara/Mohamad Hamzah.
Petani beraktivitas di sekitar lahan pertanian garam konvensional yang mulai menggunakan teknologi Geomembran di Penggaraman Talise di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (10/10/2021). Petani garam di daerah tersebut mulai memproduksi garam dengan sistem Geomembran atau lapisan lembaran plastik tebal berwarna hitam yang dihamparkan pada lahan garam yang diyakini dapat menghasilkan panas tinggi sehingga meningkatkan produksi dan kualitas garam. - Antara/Mohamad Hamzah.

Bisnis.com, SURABAYA - Produksi garam rakyat di Jawa Timur sampai akhir tahun ini diperkirakan mengalami penurunan hingga 50 persen dari proyeksi semula 1,2 juta ton akibat adanya anomali cuaca.

Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jatim, M. Hasan, mengatakan secara nasional proyeksi produksi garam rakyat tahun ini adalah 3 juta ton, dan untuk wilayah Jatim diproyeksi mencapai 1,2 juta ton.

“Namun karena anomali cuaca yang kurang baik, produksi tahun ini turun sampai 50 persen. Setiap bulan di musim kemarau ada hujan, itu mengganggu proses produksi, lalu di akhir tahun ini intensitas hujannya lebih tinggi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/11/2021).

Dia menjelaskan, selama musim kemarau hingga Oktober 2021, tingkat produktivitas garam rakyat di Jatim rerata hanya mampu mencapai 50 - 60 ton/hektare. Padahal dengan kondisi musim normal, produktivitas garam bisa mencapai 100 - 120 ton/hektare. 

“Jadi untuk tahun ini produksi garam rakyat di Jatim cuma mampu mencapai 600.000 ton, tidak sampai 1,2 juta ton,” imbuhnya.

Hasan mengatakan volume produksi garam yang turun ini telah mendorong kenaikan harga garam petambak yang sempat jatuh di angka Rp300 - Rp350/kg pada Maret lalu. Harga garam rakyat di perusahaan saat ini sudah mencapai Rp800/kg dan diharapkan harganya semakin lebih baik dengan harga layak Rp1.000/kg.

“Kenaikan harga garam ini karena saat ini tergantung pada mekanisme pasar. Karena produksi kita turun, stok berkurang, otomatis ada kenaikan harga,” katanya.

Namun begitu, lanjut Hasan, masyarakat petambak garam berharap kepada pemerintah agar komoditas garam masuk dalam daftar bahan pokok penting seperti halnya beras, gula dan lainnya dengan menetapkan Harga Pokok Produksi (HPP) garam agar tidak mudah anjlok dan membuat petambak merugi.

“Pemerintah juga diharapkan memperhatikan infrastruktur hulu misalnya pembangunan jalan makadam di kawasan tambak agar bisa menekan cost produksi, kemudian ada pembangunan saluran saluran irigasi primer air laut ke tambak, sampai ke pembangunan sekunder dengan bantuan sarana prasarana lain seperti geomembran, dan alat produksi untuk memacu produktivitas garam kita,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim garam jawa timur
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top