Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ekspor Jatim Terdampak PPKM, Industri Minta Pelonggaran Operasional

Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim Eddy Widjanarko mengatakan selama PPKM memang industri tidak diizinkan beroperasi secara penuh. Pengusaha pun sempat mengajukan untuk perusahaan-perusahaan ekspor agar bisa beroperasi 100 persen.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 18 Agustus 2021  |  18:46 WIB
Ekspor Jatim Terdampak PPKM, Industri Minta Pelonggaran Operasional
Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu. - Ilustrasi/Bisnis.com/WD
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA - Kalangan industri di Jawa Timur terutama yang berorientasi ekspor berharap pemerintah memberikan pelonggaran PPKM dalam proses produksi agar kinerja ekspor tahun ini bisa lebih baik dalam mendorong perekonomian. 

Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim Eddy Widjanarko mengatakan selama PPKM memang industri tidak diizinkan beroperasi secara penuh. Pengusaha pun sempat mengajukan untuk perusahaan-perusahaan ekspor agar bisa beroperasi 100 persen.

“Namun pengajuan tersebut tidak boleh, tetapi sekarang ini tampaknya kasus Covid-19 mulai mereda, dan sepertinya sekarang sudah bisa mengajukan supaya operasional pabrik bisa 50 persen di shift pertama, dan 50 persen di shift kedua,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (18/8/2021).

Dia mengatakan kinerja ekspor memamg cukup terganggu terutama di awal mulai berlakunya PPKM. Dia menyebut bahwa saat itu banyak pemeriksaan yang dilakukan petugas ke pabrik-pabrik, hal itu membuat pabrik memutuskan untuk menutup produksinya sementara waktu.

“Juni-Juli itu banyak sekali pemeriksaan-pemeriksaan, otomatis pabrik jadi resah, akhirnya banyak yang memutuskan untuk close produksinya. Hal ini bisa mempengaruhi kinerja ekspor kita,” jelasnya.

Eddy yang juga Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) itu menambahkan hambatan lain yang cukup mempengaruhi kinerja ekspor yakni masalah kelangkaan kontainer ekspor yang masih berlangsung sampai saat sejak akhir tahun lalu.

“Dan kontainer itu masih jadi rebutan, dengan ongkos yang mahal. Kalau biasanya satu perusahaan butuh 10 kontainer untuk ekspor, saat ini hanya dapat 5 kontainer saja,” imbuhnya.

Meski begitu, menurut Eddy kinerja ekspor Jatim sampai akhir tahun ini masih memiliki peluang terutama di sektor-sektor esensial dan kritikal. Sebagai contoh, katanya, industri minyak nabati masih akan tumbuh positif tahun ini, termasuk industri furnitur.

“Sedangkan industri sepatu ekspor rasanya masih akan stagnan, begitu juga dengan garmen, dan produk kertas, saya kira akan tumbuh,” imbunya.

Di sektor ritel, lanjut Eddy, juga tampaknya ada peluang sebab pemerintah sudah mulai memberikan pelonggaran pembukaan mal/pusat perbelanjaan di sejumlah daerah termasuk di Jatim seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto dan Bangkalan.

“Tentu saja yang namanya pelonggaran akan ada dampaknya, dengan mal dibuka akan menarik pengunjung untuk datang dan berbelanja. Ini akan memutar perekonomian kita,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor Pertumbuhan Ekonomi sepatu garmen
Editor : Ropesta Sitorus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top