Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Jatim Sebut Sejumlah Regulasi & Kondisi Hambat Ekspor

Pemerintah daerah perlu meningkatkan peran dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui penyederhanaan regulasi untuk mendukung ekspor.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 15 Juni 2021  |  18:51 WIB
Aktivitas bongkar muat di dermaga Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (23/10/2018). - ANTARA/Zabur Karuru
Aktivitas bongkar muat di dermaga Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (23/10/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, SURABAYA Kalangan pengusaha di Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim menyebut sejumlah regulasi untuk menunjang kinerja ekspor hingga saat ini masih kerap menghambat.

Ketua Forkas Jatim Eddy Widjanarko mengatakan bahwa upaya ekspor sejauh ini masih terkendala beberapa faktor di antaranya kontainer yang masih menjadi problem sehingga menghambat peningkatan volume ekspor.

“Masalah ini merupakan rentetan dari kondisi sejak akhir tahun lalu dan ini dikeluhkan para pelaku industri mebel yang berorientasi ekspor,” katanya, Selasa (15/6/2021).

Selain itu, lanjutnya, masih banyak regulasi yang ruwet dalam mengimpor komponen  barang, seperti pada industri mebel yang terhambat dalam melakukan impor komponen mebel seperti sekrup, baut, kain, kulit, engsel, bahkan barang contoh dari pembeli.

Dia menuturkan bahwa pemerintah daerah perlu meningkatkan peran dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui penyederhanaan regulasi untuk mendukung ekspor, termasuk menggencarkan sosialisasi terkait aturan IPAL, limbah B3, lingkungan hidup, dan aspek lainnya.

“Sosialisasi tersebut diperlukan guna kesinambungan aktivitas, dan para pelaku industri juga perlu ditingkatkan pemahamannya tentang berbagai peraturan agar taat aturan, jangan langsung dirazia,” imbuhnya.

Meski begitu, lanjut Eddy, para eksportir atau industri berorientasi ekspor sejak tahun lalu cukup terbantu dengan adanya permintaan pasar yang semakin besar terutama ke Amerika Serikat sebagai dampak dari perang dagang AS dengan China.

“Sebagai contoh ekspor sepatu karena perang dagang AS dan China, di mana AS mengalihkan permintaan produk sepatu ke negara selain China. Jadi, rupanya perang dagang ini membawa rezeki bagi eksportir produsen sepatu,” imbuhnya.

Wakil Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jatim Budianto Budi menambahkan bahwa produsen mebel Jatim juga memperoleh banyak order dari pembeli AS karena dampak perang dagang.

Buyer AS semula mendatangkan produk mebel dari China, lalu mengalihkan order ke Vietnam dan negara lainnya, termasuk Indonesia akibatnya ekspor mebel Jatim naik di kuartal I/2021 karena kapasitas produksi di Vietnam sudah full,” tuturnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor nonmigas Industri Mebel dan Kerajinan
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top