Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Kakao Asal Jatim Tinggi, Pasokan Belum Optimal

Ada permintaan dari pengepul yang ingin menyerap produksi kakao kelompok tani maupun dari desanya sebesar 100 ton/bulan.
Ilustrasi./Bisnis-Rachman
Ilustrasi./Bisnis-Rachman

Bisnis.com, SURABAYA — Potensi permintaan komoditas kakao dari Jawa Timur saat ini masih sangat tinggi tetapi pengembangan tanaman ini masih belum optimal.

Ketua Kelompok Petani Kakao Kertomulyo Blitar, Hamim menceritakan saat ini tingkat produktivitas tanaman kakao di kebun kelompoknya sekitar 750 kg/ha/tahun. Sedangkan kebun miliknya hanya sekitar 1,5 ha.

“Kalau kebun saya sendiri hanya 1,5 ha, berarti produksi kakao saya tahun lalu itu sekitar 350 kg lebih. Tapi, produksi kakao kami ini meningkat jika dibandingkan 2019 yang hanya 465 kg/ha/tahun,” katanya kepada Bisnis, Rabu (17/2/2021).

Namun begitu, ada permintaan dari pengepul yang ingin menyerap produksi kakao kelompok tani maupun dari desanya sebesar 100 ton/bulan. Hanya saja, permintaan pasar tersebut belum dapat dipenuhi untuk saat ini.

“Kami sendiri sudah berusaha untuk melakukan pengembangan lahan tanam pohon kakao dengan bantuan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blitar. Kami waktu itu dapat 5.000 batang pohon untuk ditanam di lahan seluas 5 ha,” ujarnya.

Selama ini, lanjutnya, hasil produksi kakao kering kelompok tani Hamim ini diserap oleh pengepul untuk dipasok ke industri pengolahan makanan seperti di Mojokerto.

Hamim berharap tahun ini pun kakao dapat yang dihasilkan dengan bagus dan meningkat, mengingat adanya intensitas hujan yang tinggi dapat mengganggu perkembangan tanaman, terutama adanya penyakit jamur yang menyerang buahnya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, Isdarmawan Asrikan mengatakan GPEI sendiri memiliki program pengembangan potensi daerah salah satunya pengembangan kakao rakyat di 5 daerah, di antaranya Kabupaten Malang, Blitar, Bondowoso, Trenggalek, dan Pacitan.

“Dalam pengembangan potensi daerah ini, kami memiliki program Sustainable Cocoa Development Programme (SDCP) bekerja sama dengan Uni Eropa, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember dan pemda setempat,” jelasnya.

Adapun dalam program yang berlangsung empat tahun itu, GPEI memberikan bantuan bibit unggul tanaman kakao, sekaligus mengawal pemeliharaannya serta pembinaan terhadap petani sejak tahun lalu agar bisa menghasilkan panen yang Bagus.

Menurutnya, kebutuhan pabrik pengolahan kakao dalam negeri sendiri kekurangan bahan baku sehingga kerap mendatangkan kakao dari kawasan timur Indonesia bahkan impor dari Afrika. 

“Potensi kakao rakyat di Jatim masih cukup besar tapi belum dikembangkan optimal, padahal komoditas tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa karena bisa dipanen dua kali per bulan dan penjualannya juga cukup mudah,” imbuh Isdarmawan.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper