Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hortikultura Dinilai Masih Berpeluang di Tengah Pandemi

Dampak pandemi memang diakui telah membuat petani hortikultura memilih beralih ke komoditas pangan karena dianggap hasilnya lebih tahan simpan dan harganya lebih stabil.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 18 September 2020  |  17:03 WIB
Petani memanen timun suri. - Antara/Dedhez Anggara
Petani memanen timun suri. - Antara/Dedhez Anggara

Bisnis.com, SURABAYA – Asosiasi Petani – Pengolah Hasil Hortikultura (Asppehorti) menilai tanaman hortikultura seharusnya memiliki peluang yang besar di tengah kondisi pandemi Covid-19 sehingga sektor ini pun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Sekjen Asppehorti, Abdus Salim mengatakan dampak pandemi memang diakui telah membuat petani hortikultura memilih beralih ke komoditas pangan karena dianggap hasilnya lebih tahan simpan dan harganya lebih stabil.

“Tapi di sisi lain, bisnis hortikultura ini sebenarnya mendatangkan keuntungan berlipat di kala pandemi, yakni berpeluang meningkatkan pendapatan karena sebagai boosting immunity saat pandemi,” ujarnya dalam Webinar Pertanian oleh Kadin Jatim, Jumat (18/9/2020).

Adapun sejumlah keutungan dalam pengembangan hortikultura di masa pandemi terutama dalam menggerakkan ekonomi baru yakni aktivitas ini berpotensi meningkatkan pendapatan petani, menyerap banyak tenaga kerja, mengurangi impor sekaligus meningkatkan potensi pasar domestik, bahkan petani dituntut bisa masuk ke market place.

Melihat peluang itu, kata Abdus, Asppehorti sendiri terus melakukan pendampingan petani kecil dalam memilih komoditas strategis yang peka pasar, serta mendorong petani tersambung ke ekosistem digital.

“Kami juga memotivasi generasi milenial dan tenaga pengangguran beralihje aktivitas tanam horti,” imbuhnya.

Abdus mengakui kendala pertanian horti masih kerap dihadapi petani, misalnya seperti komoditi bawang merah yang harganya fluktuatif sehinggamembuat petani kecil tidak bisa menanam lagi, harga bibit tinggi pada akhirnya beralih ke tanaman lain. Selain itu, pupuk subsidi tidak tersedia saat dibutuhkan petani. Stok untuk ekspor juga tidak didukung petani sekitar.

“Harga bawang merah tingkat petani sekarang untuk konsumsi Rp18.000 – Rp20.000/kg, bibitnya Rp40.000 – Rp45.000/kg, ini masih cukup menarik bagi petani,” katanya.

Untuk itu, Asppehorti pun memberikan saran kebijakan yakni dukungan secara umum dan lebih luas dari berbagai pemangku kepentingan guna pengembangan hortikultura.

“Dukungan itu bisa berupa penyediaan informasi peluang bisnis komoditas, penyediaan lahan, sarana produksi, stimulus modal usaha, hingga penyediaan jejaring pasar baik online, offline dan ekspor,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hortikultura pertanian jatim
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top