Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Belum Pulih, Pembudi Daya Lele dan Patin Menahan Produksi

Pasar produk lele, patin dan bentuk fillet sempat berhenti total pada Maret dan April baik di pasar domestik maupun ekspor.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 17 September 2020  |  15:25 WIB
Ikan patin. - Antara
Ikan patin. - Antara

Bisnis.com, SURABAYA – Pengusaha budi daya ikan lele dan patin tahun ini harus menahan rencana produksi setidaknya hanya 70 persen – 80 persen dari kondisi normal karena imbas dari pandemi Covid-19.

Ketua Bidang Budi Daya Patin Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Imza Hermawan mengungkapkan pada awal pandemi, pasar produk lele, patin dan bentuk fillet sempat berhenti total pada Maret dan April baik di pasar domestik maupun ekspor dengan penurunan permintaan 60 persen – 70 persen.

“Tapi setelah Lebaran, pasar perlahan membaik, itupun untuk pasar domestik. Sedangkan permintaan ekspor berhenti total sampai hari ini terutama patin maupun yang di fillet,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Dia mengatakan belum pulihnya pasar secara utuh membuat pengusaha budi daya harus menahan produksi yakni dengan menebar benih lele/patin tetapi tidak full hingga menunggu kondisi pasar kembali normal.

“Untuk memproduksi patin sebenarnya kita masih wait and see sehingga melakukan tebar benih, tapi tidak full. Kalau ikan lele kelihatan sudah hampir pulih dan produksinya bagus, dan kabarnya ikan lele ada permintaan dari luar. Cuma kalau ada PSBB lagi ya tentu repot,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, APCI sendiri tahun ini seharusnya memproyeksikan produksi ikan patin dan lele bisa tumbuh di atas 20 persen sejalan dengan peningkatan permintaan pasar asing dan domestik saat awal tahun.

Permintaan tinggi berasal dari restoran-restoran di Indonesia dan pasar ekspor oleh Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhkan jamaah umrah dan haji asal Indonesia. Hanya saja, kondisi pandemi telah merubah proyeksi tersebut.

Adapun pada 2019, pengusaha patin mampu mengekspor 236.000 ton produk olahan pangasius atau patin berupa fillet dan steak ke Arab Saudi. Data APCI mencatat, produksi ikan patin pada 2017 mencapai 319.967 ton, lalu pada 2018 kembali meningkat menjadi 391.151 ton.

Produksi ikan patin tersebut berasal dari beberapa sentra seperti Jatim (Tulungagung dan Jombang), Sumatra Utara (Perbaungan, Deli Serdang), Riau (Kampar), Sumatera Selatan (Banyuasin, Oku Timur) Jambi (Muarojambi, Batanghari), dan Lampung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan jatim
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top