Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor Jatim Naik 14,37 Persen, Ada Indikasi Pergerakan Ekonomi

Sebenarnya kinerja ekspor Jatim sangat dipengaruhi tren impor mengingat produk ekspor Jatim bergantung pada 80 persen bahan baku impor.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 16 September 2020  |  15:05 WIB
Ilustrasi bongkar muat peti kemas. - Antara/Didik Suhartono
Ilustrasi bongkar muat peti kemas. - Antara/Didik Suhartono

Bisnis.com, SURABAYA – Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur menyebut adanya peningkatan tren impor Jatim pada Agustus 2020 sebesar 14,37 persen dibandingkan bulan sebelumnya merupakan indikasi ekonomi mulai bergerak.

Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan GINSI Jatim, Medy Prakoso mengatakan sebenarnya kinerja ekspor Jatim sangat dipengaruhi tren impor mengingat produk ekspor Jatim bergantung pada 80 persen bahan baku impor.

Menurutnya, jika nilai impor Jatim pada Agustus 2020 mengalami penurunan 14,27 persen dibanding Agustus 2019, maka tidak bisa dipungkiri bahwa kinerja ekspor Jatim juga turun.

“Tapi jika impor kita naik 14,37% pada Agustus 2020 dibandingkan Juli 2020, maka ekspor kita juga pasti terdampak naik dan konsumsi dalam negeri kita juga naik. Ini indikasi bahwa ekonomi kita mulai bergerak walau tidak besar, arahnya sudah bagus,” katanya, Rabu (16/9/2020).

Dia mengatakan sebenarnya keadaan kinerja ekspor impor Jatim ini perlu ditopang oleh stimulus eksternal. Hanya saja, koefisiensinya dinilai masih sangat kecil lantaran keadaan semua lini bisnis saat ini juga sedang rendah.

“Namun kami berharap, kondisi ini segera merangkak naik,” katanya.

Medy menambahkan, melihat kondisi global yang juga belum bisa naik ataupun ada peningkatan tapi tidak signifikan serta nilai tukar rupiah yang lemah dalam 2 bulan terakhir ini, maka hal ini dinilai belum mampu menstimulus impor untuk naik.

“Walaupun pemerintah sudah memberi stimulus dalam perpajakan, tapi perlu dukungan kebijakan yang ekstrem dalam melihat keadaan ini sebagai keadaan darurat nasional. Secara corporate mereka akan lebih bertahan dengan cara apapun agar tidak terdampak hebat,” imbuhnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan menyebut kinerja impor Jatim pada Agustus ini tercatat mencapai US$1,57 miliar atau naik 14,37 persen dibandingkan Juli 2020 yakni US$1,38 miliar. Namun jika dibandingkan Agustus 2019, memang turun 14,27 persen.

“Menurut golongan penggunaan, impor bahan baku tercatat US$1,23 miliar atau naik 18,44 persen dibandingkan Juli. Impor barang modal juga naik 6,54 persen yakni tercatat US$137 juta, khusus barang konsumsi yang turun 1,35 persen atau tercapai US$202 juta,” jelasnya.

Dadang menambahkan impor Jatim memang paling banyak disumbang oleh bahan baku dengan kontribusi mencapai 78,42 persen, disusul barang modal 8,71 persen, dan barang konsumsi hanya 12,86 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top