Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Organda Surabaya Sebut Kinerja Angkutan Masih Sulit Terangkat

Angkutan orang masih ada pembatasan jumlah kapasitas angkut baik angkot, bus maupun taksi.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  20:46 WIB
Sopir angkutan kota. - Antara/Galih Pradipta
Sopir angkutan kota. - Antara/Galih Pradipta

Bisnis.com, SURABAYA – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Surabaya masih pesimistis kinerja sektor angkutan umum belum mampu terangkat meski sudah ada pelonggaran aktivitas di masa pandemi Covid-19 atau masa normal baru.

Ketua Organda Surabaya, Sunhaji Ilahoh mengatakan sejak pandemi terjadi penurunan kinerja angkutan darat anjlok 80 persen bahkan 100 persen terutama pada saat ada pembatasan sosial berskala besar.

“Setelah PSBB tidak ada, dan mulai normal baru seperti sekarang ternyata juga tidak mampu mengerek pertumbuhan kinerja selama masih ada pandemi,” ujarnya, Senin (27/7/2020).

Dia menjelaskan tidak mampunya sektor angkutan orang terutama karena masih ada pembatasan jumlah kapasitas angkut baik angkot, bus maupun taksi. Angkutan umum masih menerapkan jumlah penumpang hanya 50 persen dari total kapasitas angkutan, begitu juga dengan tempat wisata maupun perkantoran.

“Kondisi pembatasan yang masih ada itu otomatis berdampak pada penurunan jumlah penumpang. Sementara biaya operasional angkutan juga tetap harus dibayar seperti biaya bahan bakar,” jelasnya.

Organda, tambah Sunhaji, meminta pemerintah untuk memberikan insentif kepada para sopir angkutan umum. Hanya saja, upaya Pemprov Jatim yang memberikan insentif bagi para sopir dinilai tidak tepat sasaran lantaran penyalurannya dilakukan melalui RT-RW di kampung.

“Penyaluran dana bantuan itu tidak langsung ke para sopir, tapi lewat kelurahan dan RT/RW sehingga bantuan khusus sopir ini ternyata tidak tepat sasaran,” imbuhnya.

Sementara kinerja angkutan barang di masa pandemi saat ini setidaknya masih bisa terangkat terutama dengan mengandalkan pengiriman barang e-commerce.

“Memang dampak pandemi ini cukup besar bagi dunia logistik, tetapi untuk angkutan barang turunnya tidak separah angkutan orang. Kalau angkutan barang turun 50 – 75 persen dari kondisi normal,” kata Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Jatim Ivy Kamadjaja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim surabaya
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top