Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

"Coach Punya Pabrik?... Kok Berani Meng-Coaching Saya yang Sudah Punya Beberapa Pabrik?"

Seorang coach bertanggung jawab memacu, memicu dan mendisiplinkan tumbuh kembang bisnis ke titik berikutnya, terlepas dari seberapa besarnya/dan suksesnya pebisnis tersebut di titik sekarang.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 03 April 2020  |  16:18 WIB
Humphrey Rusli (Certified Executive and Business Coach ActionCOACH BARACoaching).
Humphrey Rusli (Certified Executive and Business Coach ActionCOACH BARACoaching).

Bisnis.com, JAKARTA - Judul artikel di atas adalah penggalan percakapan dalam sebuah seminar di mana saya sebagai pembicara menjelaskan manfaat coaching kepada seorang pebisnis senior yang hadir di acara kami.

Kejadian ini terjadi 7 tahun lalu ketika status saya waktu itu masih sebagai coach junior (sekarang sudah jadi coach Senior pun masih tidak punya pabrik). Kisah ini saya angkat untuk menjelaskan konsep Sukses yang banyak disalah pahami banyak orang, termasuk saya sewaktu masih awam tentang konsep Sukses ini.

Jika kita diminta untuk menghubungkan antara Uang/Materi dan Kesuksesan dengan 2 pilihan sebagai berikut;

a. Orang Punya Materi/Uang banyak, baru layak disebut Sukses.

Atau

b. Orang harus menjadi Sukses dahulu, baru nanti kelak bisa mendapat uang/materi.

Mana yang benar? Tentu anda sependapat dengan saya bahwa mayoritas akan memilih A, bukan?

Nah disini letak kerancuannya. Karena proses Sukses seseorang tidak terletak pada jumlah uang dan materi (walaupun itu salah satu indikator paling kuat) namun terletak dari memberikan manfaat atau faedah kepada pihak lain. Mayoritas cara berpikirnya terbalik. Harus ada uang dulu baru bisa disebut sukses. Tidak ada uang maka tidak sukses.

Ini salah besar! Yang benar adalah : sukses lah yang membuat seseorang mendapatkan materi. Ini bukan teori manusia, ini sebetulnya hukum alam yang bersifat abadi, tidak bisa dibengkokkan dan tidak mungkin dimanipulasi oleh manusia. Sukses harus ada dulu. Baru dapat uangnya

Lalu Sukses seperti apa yang di maksudkan?

Jika Hukum Alam pertama menjelaskan urutan sukses dan materi. Maka ada Hukum Alam kedua yang menjelaskan bahwa:

"Siapapun yang berpartisipasi memberi/membantu menciptakan manfaat dalam suatu hal maka dia juga akan mendapat manfaat yang sama".

Apa ini artinya?

Bahwa jika seseorang memberikan manfaat dalam membantu orang lain menjadi makmur secara materi, maka seseorang itu juga PASTI ikut menjadi MAKMUR. Jika seseorang memberikan manfaat dalam membantu orang lain menjadi bahagia, maka seseorang itu juga PASTI ikut menjadi BAHAGIA. Jika seseorang memberikan manfaat dalam membantu orang lain menjadi pandai, maka seseorang itu juga PASTI ikut menjadi PANDAI. PASTI. Karena ini hukum alam. Dan yang membuat bukan manusia.

Di sini kita bisa melihat bahwa materi atau uang hanya akan menjadi acuan kesuksesan jika 2 faktor terpenuhi :

a. Sukses dahulu dalam memberi manfaat.

b. Di mana manfaatnya adalah me Makmur kan pihak lain

Dengan kata lain, jika Sukses memberi manfaat tapi bukan dalam hal urusan Materi/kemakmuran, maka bukan Uang satuan yang kita harus lihat, namun manfaat yang sama apapun itu yang diperoleh oleh si pemberi manfaat, sebagai acuan kesuksesan.

Apa hubungan 2 Hukum Alam ini dengan coaching dan percakapan saya dengan pengusaha senior 7 tahun lalu?

Pebisnis yang berhenti berkembang adalah yang berhenti memberi manfaat lebih kepada orang lain, orang sekitarnya, anak buahnya, konsumennya, keluarganya dan dirinya sendiri. Acuan jumlah materi (pabrik,dll) yang lebih dari cukup sering menghentikan langkah pebisnis untuk mengembangkan usahanya dalam memberi manfaat lebih luas lagi.

Seorang coach bertanggung jawab memacu, memicu dan mendisiplinkan tumbuh kembang bisnis ke titik berikutnya, terlepas dari seberapa besarnya/dan suksesnya pebisnis tersebut di titik sekarang. Bisnis jangan hanya berkembang karena mengikuti kepentingan dan kebutuhan pebisnis yang suatu saat akan "menthok" alias berhenti, tapi harus berkembang selama masih ada potensi memberi manfaat kepada orang lain.

Jadi jika sudah melayani dan memberi manfaat (baca: mendominasi pasar) di suatu wilayah/kota, maka saatnya untuk merambah memberi manfaat ke wilayah lain yang lebih luas, demikian seterusnya sampai tidak ada lagi yang belum mendapatkan manfaat dari bisnis tersebut.

Untuk bisa menjadi pemberi manfaat yang lebih luas, maka cara pebisnis itu dalam menjalankan bisnis nya harus diadjust dan jika perlu dirombak secara total.

Kesimpulannya?

Semakin sudah mapan posisi seorang pebisnis semakin menantang dan sulit bagi yang bersangkutan untuk membongkar ulang hal-hal yang sudah terbukti membawanya ke level  kesuksesan saat ini. Semakin besar godaan untuk "berhenti" meningkatkan manfaat dan stuck di posisi itu dalam jangka waktu yang tidak terbatas!

Salam the next level.

Humphrey Rusli

Certified Executive and Business Coach

ActionCOACH BARACoaching

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelatihan seminar
Editor : Media Digital
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top