Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengembang Apartemen Perlu Kombinasi Strategi Agar Pasar Sehat

Pengembang properti di Surabaya dinilai perlu menciptakan proyek apartemen yang dapat menarik konsumen langsung.
Ilustrasi proyek apartemen./Antara-Risky Andrianto
Ilustrasi proyek apartemen./Antara-Risky Andrianto

Bisnis.com, SURABAYA — Pengembang properti di Surabaya dinilai perlu menciptakan proyek apartemen yang dapat menarik konsumen langsung atau end user sesuai kebutuhan agar kondisi pasar bisa stabil.

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan pembeli apartemen dari sisi investor maupun end user sebenarnya tidak berpengaruh bagi pengembang asalkan semua proyeknya terjual.

"Namun, jika pengembang hanya memikirkan hal itu (pembeli investor saja), maka market seperti ini enggak sehat, sebab jika kondisi ekonomi kurang baik, tingkat penyewanya rendah, jadi terhuni atau tidak unitnya, investor harus tetap membayar service charge ditambah cicilan KPA," jelasnya saat Media Luncheon Colliers, Rabu (29/1/2020).

Dia menjelaskan apartemen yang bisa dihuni langsung oleh pembelinya diyakini dapat meningkatkan kinerja sektor properti. Bahkan pemerintah sendiri telah membuat regulasi seperti beberapa kali menurunkan Loan to Value (LTV) agar masyarakat mampu membeli hunian baik rumah/apartemen dengan uang muka yang lebih ringan.

"Yang diharapkan dari kebijakan ini kan pembeli langsung. Nah sekarang yang perlu didorong adalah bagaimana membuat produk yang bisa diterima end user, karena pembeli end user itu lebih sehat, dan akan berat kalau berharap pada investor saja," ujarnya.

Ferry mengatakan, jika pengembang ingin menarik pembeli investor maka hanya perlu memberikan iming-iming return atau yield atau keuntungan yang diperoleh dari hasil menyewakan apartemen.

"Namun kondisinya sekarang, pilihan investasi semakin banyak, ada saham, ada deposito bank. Kalau investasi keuangan itu memberikan bunga yang lebih tinggi dari pada properti, tentu investor lebih tertarik pada investasi keuangan," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Ferry, permintaan apartemen baik investor maupun end user masih akan tetap ada lantaran bagi segmen menengah properti adalah kebutuhan dasar atau tempat tinggal masyarakat, dan juga sebagai gaya hidup bagi segmen atas.

"Bagi sebagian orang kelas atas, punya apartemen jadi kebanggan, mereka beli karena hanya ingin pamer, tapi bagi kelas menengah, mereka beli karena mereka butuh untuk hunian," imbuhnya.

Berdasarkan data Colliers, pasokan apartemen Surabaya pada semester II/2019 sebesar 7.948 unit. Jumlah itu meningkat tajam sebesar 25,6% dari semester II/2018. Hingga Desember 2019, total unit apartemen mencapai 43.942 unit.

Namun, pada semester II tahun lalu itu, tingkat penyerapan atau penjualanya masih belum bergerak banyak hanya tumbuh 2%. Tahun ini pun diprediksi penjualan apartemen di Surabaya hanya sekitar 83% - 84% dari total proyek yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler