BI Malang Dorong Batu Menjadi Sentra Produksi Bawang Putih

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang mendorong Kota Batu, Provinsi Jatim, kembali menjadi sentra produksi bawang putih nasional seperti sebelum akhir 1990-an.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 10 September 2019  |  18:29 WIB
BI Malang Dorong Batu Menjadi Sentra Produksi Bawang Putih
Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho (kiri) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Amanlison Sembiring (tengah) dan Kepala Desa Tulungrejo, Kec. Bumiamji, Kota Batu, Suliono (kanan) pada Panen Perdana Demplot Klaster Bawang Putih Poktan Tani Maju 01 di desa tersebut, Selasa (10/9/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, BATU – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang mendorong Kota Batu, Provinsi Jatim, kembali menjadi sentra produksi bawang putih nasional seperti sebelum akhir 1990-an lewat program klaster bawang putih nasional.

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan program tersebut terutama sebagai upaya pengendalian inflasi tersebut yang bekerja sama dengan pemerintah daerah maupun dinas terkait lainnya.

“Pengembangan klaster saat ini lebih difokuskan pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan, komoditas berorientasi ekspor, serta komoditas sumber tekanan inflasi/volatile foods (VF),” katanya di sela-sela Panen Perdana Demplot Klaster Bawamng Putih Poktan Tani Maju 01, Desa Tulungrejo, Kec. Bumiamji, Kota Batu, Selasa (10/9/2019).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, sekitar 95% kebutuhan bawang putih di Indonesia masih dipenuhi oleh impor dari luar negeri, khususnya China sehingga perlu untuk adanya program pengembangan bawang putih untuk memenuhi ketersediaan stok di dalam negeri.

Pengembangan komoditas bawang putih merupakan salah satu upaya BI untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih serta mengurangi defisit transaksi berjalan (CAD).

KPw BI Malang telah mengembangkan beberapa klaster ketahanan pangan antara lain klaster padi, bawang merah, hortikultura (cabai merah dan kentang), serta klaster kopi untuk komoditas unggulan. Program kerja pengembangan klaster pada 2019 salah satunya adalah pengembangan Klaster Bawang Putih.

Pengembangan klaster bawang putih dalam upaya meningkatkan produktifitas dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni melakukan survei dan identifikasi komoditas bawangputih di wilayah kerja KPw BI Malang.

Melakukan koordinasi dan FGD dengan Dinas Pertanian Kota Batu dan Kelompok Tani, melakukan kerja sama dengan tenaga ahli dari Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang yang meliputi pendampingan pengolahan lahan, pembuatan pupuk kompos (organik), serta pemeliharaan lahan; dan peningkatan produktifitas bawang putih.

Selanjutnya, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya bawang putih, penerapan agens hayati, pembuatan kompos, serta pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Pembuatan lahan implementasi/demplot klaster bawang putih seluas 5.000 m² di DesaTulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, jegiatan studi lapang bersama Dinas Pertanian Kota Batu, PPL Kota Batu, PKPHT serta Poktan Tani Maju ke sentra bawang putih di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Karanganyar pada April 2019.

Pemberian bantuan sarana dan prasarana dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa alat-alat pertanian dan pembangunan laboratorium agens hayati.

“Hasil panen bagus. Menggunakan bibit lokal, ternyata umbinya besar, mirip dengan bawang putih impor, namun rasanya lebih kuat, lebih pedas,” ujarnya.

Dengan keberhasilan itu, dia berharap, usaha budi daya bawang putih kembali meluas di Batu. Petani tertarik membudidayakan komoditas pangan tersebut karena nilai ekonomisnya tinggi.

Perluasan Lahan

Ketua Gapoktan Mitra Arjuma Kota Batu Luki Budiarti mengatakan jika bawang putih dimanfaatkan untuk bibit maka harganya bisa mencapai Rp50.000/kg, sedangkan produksi per hektarenya mencapai 8 ton sehingga keuntungan petani bisa mencapai Rp300 juta/panen karena biaya produksinya mencapai Rp100 juta/hektare.

Perluasan tanaman bawang putih bergantung pada adanya lahan. Dari sisi SDM petani sangat siap. Pada akhir 1990-an petani di sana tidak lagi tertarik menanam bawang putih karena harga dari komoditas tersebut yang murah, karena serbuan produk impor.

Kepala Desa Tulungrejo, Kec. Bumiaji, Kota Batu Suliono mengatakan jika ada kepastian harga yang baik dengan tidak masuknya bawang putih impor saat memasuki panen raya, maka bisa saja petani di desa tersebut menanam seluas 300 hektare seperti sehingga dearah tersebut dapat menjadi sentra produksi bawang putih nasional.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono, menegaskan upaya mendorong daerah sebagai sentra produksi bawang putih nasional dilakukan secara bertahap sesuai dengan mekanisme pasar, yakni terkait pasokan dan permintaan sehingga tidak terjadi gejolak pasar.

Lewat program dari Kementan, pihaknya mendorong penanaman bawang putih secara bertahap. Tahun ini ditanam seluas 50 hektare, sedangkan yang tertanam seluas 25 hektare. Tahun depan lebih banyak lagi, yakni sekitar 70 hektare dan terus berkembang tahun berikutnya.

“Untuk mendorong petani bersedia menanam bawang putih, pemerintah membantu benih,” ucapnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Amanlison Sembiring menegaskan dukungannya pada program klaster bawang putih di Batu karena sesuai dengan program BI Jatim terkait pengembangan klaster pangan yang berdampak pada pengendalian inflasi dan mengurangi defisit neraca berjalan.

Apalagi impor bawang putih ke Jatim masih tinggi. Data BPS menjukkan bahwa pada 2018 angka impor komoditas tersebut ke Jatim mencapai US$259,4 juta. Angka itu lebih besar daripada impor bawang merah dan olahannya yang hanya sebesar US$22 juta.

“Tingginya impor tersebut mengindikasikan masih tingginya ketergantungan Jatim pada produksi bawang putih dari luar negeri,” ujarnya. (K24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bawang Putih

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup