Terkoneksi Infrastruktur Nasional, Ekonomi di Eks Karesidenan Kediri dan Madiuan sangat Menjanjikan

Infrastruktur di wilayah eks Karesidenan Kediri dan Madiun, yang lebih dikenal dengan Wilayah Mataraman, makin terkoneksi dengan infrastuktur nasional dengan dibangunnya Bandara Kediri dan jalan tol yang menyambung sampai ke Blitar. Perekonomian di di eks Karesidenan Kediri dan Madiun diyakini berkembang pesat dengan adanya infrastruktur itu.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  17:53 WIB
Terkoneksi Infrastruktur Nasional, Ekonomi di Eks Karesidenan Kediri dan Madiuan sangat Menjanjikan
Pengendara melintas di jalan tol ruas Kertosono-Ngawi di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (26/3/2018). - ANTARA/Siswowidodo

Bisnis.com, MALANG—Infrastruktur di wilayah eks Karesidenan Kediri dan Madiun, yang lebih dikenal dengan Wilayah Mataraman, makin terkoneksi dengan infrastuktur nasional dengan dibangunnya Bandara Kediri dan jalan tol yang menyambung sampai ke Blitar. Perekonomian di di eks Karesidenan Kediri dan Madiun diyakini berkembang pesat dengan adanya infrastruktur itu.

Wilayah eks Karesidenan Kediri mencakup Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Ngajuk, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulung Agung.

Wilayah eks Karesidenan Madiun meliputi Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo.

Djoko Raharto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, mengatakan pembangunan Bandara Kediri tahun ini dijadwalkan tahap ground breaking, sedangkan jalan tol akan menyambung ke Kediri dari Nganjuk.

“Dari Kediri akan terus ke Blitar pada tahun berikutnya,” katanya saat dihubungi dari Malang, Kamis (31/1/2019).

Dengan makin terkoneksinya infrastruktur di daerah Mataraman dengan infrastruktur nasional, terutama di Jawa, dengan Trans Jawa, maka perkembangan ekonomi di wilayah tersebut bisa dipacu.

Daerah Mataraman berpotensi menarik investor untuk berinvestasi di industri manufaktur.

Namun, dia mengingatkan, pembangunan industri di Mataraman jangan sampai menganggu produksi pangan, terutama padi, karena di wilayah pemasok padi penting secara nasional.

Masalah tersebut harus benar-benar diantisipasi oleh Pemda dengan membuat perencanaan matang terkait pengembangan sektor industri tanpa menanggu produksi pangan.

Dari keunggulan kompetitif, kata Djoko, daerah Mataraman unggul karena angka inflasi di sana rendah. Selain itu, upah di sana juga relatif lebih rendah yang dengan melihat UMK yang berlaku.

Kepala Perwakilan BI Jatim Difi A. Johansyah mengatakan penyiapan SDM yang terampil perlu dilakukan agar masyarakat di sana siap berpartisipasi aktif dengan tumbuhnya sektor industri.

Penyiapan mental juga penting agar masyarakat di sana tidak mengalami gegar budaya dengan masuknya industri secara massif di daerah Mataraman. “Ini yang menjadi tugas pemerintah, terutama pemda,” ujarnya.

Dengan benar-banar terkoneksinya infrastruktur di Jawa, dia optimistis sektor industi pariwisata berpeluang berkembang pesat. Dengan adanya tol, maka jarak tempuh tidak menjadi masalah karena waktu tempuhnya menjadi lebih pendek.

Yang perlu dilirik, pengembangan wisata religi. Di Jatim, termasuk di Mataraman, kaya dengan peninggalan-peninggalan sejarah yang bersifat religius.

Jika digarap dengan baik, maka potensi wisata religus di Jatim akan berkembang dengan baik pula karena adanya dukungan infrastruktur yang representatif.

Menurut Djoko, untuk mengurangi konversi lahan pertanian maka perlu dikembangkan tanaman pertanian dan perkebunan di lahan nonsawah. . Komoditas tersebut, seperti kopi.

Di Tulungagung, petani di sana berhasil menanam sekitar 40.000 pohon kopi Arabica specialty yang sebagian pengadaannya dibantu BI. Kopi yang ditanam tersebut, sebagian sudah berhasil berbuah. Karena itulah, BI Kediri berusaha mendatangkan pembeli, terutama eksporter, dengan melakukan kegiatan lelang kopi.

Komoditas lainnya, kakao yang potensi ekspornya tinggi. Kampung Cokelat Blitar berhasil mengekspor 350-400 ton/bulan dari berbagai daerah di Indonesia. "Kalau cokelat justru ditanam di Blitar dan sekitarnya kan lebih baik," ucapnya.

Komoditas lainnya, kunyit. Komoditas tersebut sudah ada yang siap membeli untuk ekspor. Perusahaan ekspor di Surabaya sudah mendapatkan kontrak ekspor sebanyak 2.000 ton, namun yang terealisasi baru 600 ton. " Kekurangannya bisa dipenuhi dari kunyit yang ditanam di Trenggalek," ujarnya.

Ada 740 hektare lahan yang siap ditanami masyarakat komoditas kunyit.  Komoditas lain yang bisa dikembangkan untuk ekspor, yakni porang biasa digunakan untuk a.l kapsul dan mie khas Jepang. Eksporternya sedang membangun pabrik di Madiun dengan kapasitas produksi 60 ton/hari. "Ini potensi yang luar biasa," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
madiun, Tol Kediri-Kertosono

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup