SKK Migas Optimalkan Produksi di Jabanusa

SKK Migas tahun ini akan mengoptimalkan sejumlah proyek eksplorasi dan eksploitasi sumber minyak dan gas di wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) agar mampu memenuhi target produksi minyak secara nasional sebanyak 750.000 barel per hari (barrel oil per day/BOPD).
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  17:02 WIB
SKK Migas Optimalkan Produksi di Jabanusa
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher (kanan) bersama Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar (tengah) dan Staf Hubungan Kelembagaan SKK Migas Rangga Dinasti (kiri) saat acara Media Gathering, Rabu (30/1 - 2019).

Bisnis.com, SURABAYA – SKK Migas tahun ini akan mengoptimalkan sejumlah proyek eksplorasi dan eksploitasi sumber minyak dan gas di wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) agar mampu memenuhi target produksi minyak secara nasional sebanyak 750.000 barel per hari (barrel oil per day/BOPD).

Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar mengatakan proyeksi produksi minyak tahun ini masih sama dengan tahun lalu yang rerata 750.000 BOPD, yang sebanyak 40% di antaranya merupakan kontribusi dari wilayah Jabanusa.

“Meski proyeksi produksi masih hampir sama, tapi kita semua berupaya untuk terus melakukan eksplorasi atau menggali potensi sumber-suber minyak baru, yang diharapkan pada 2022 produksi nasional kita bias mencapai 1 juta BOPD,” jelasnya saat Media Gathering SKK Migas Jabanusa, Rabu (30/1/2019).

Dia mengakui produksi minyak nasional hanya mampu mencapai 750.000 BOPD, padahal kebutuhan minyak nasional baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri mencapai 1,6 juta barel per hari. Sehingga Indonesia masih harus melakukan impor untuk memenuhi kekurangan minyak tersebut.

“Memang ada gap antara jumlah produksi dengan konsumsi, sehingga mau tidak mau harus impor, dan ketika harga minyak dunia naik, dollar mulai naik, itu yang menyebabkan harga minyak kita fluktuatif,” jelasnya.

Adapun sejumlah proyek eksplorasi Jabanusa yang akan digarap tahun ini oleh para kontraktor, di antaranya seperti Lapindo Brantas di lapangan Metro Jombang, Energi Mineral Langgeng (EML) di lapangan Saronggi Sumenep Madura, Pertamina Hulu Energi (PHE) di Tuban, serta Pertamina EP Cepu di Alas Dara dan Lapangan Kemuning (ADK) Blora.

“Untuk Lapindo Brantas diperkirakan 20 Februari ini sudah mulai ngebor sumur, dan mudah-mudahan minimal tahun ini sudah bisa eksploitasi yang di Jombang dan Sumenep,”jelasnya.

Sementara itu, untuk proyek eksploitasi yang akan digarap tahun ini untuk mencapai target produksi migas yakni pengembangan Lapangan Tanggulangin 10 dan Tanggulangin 6 oleh Lapindo.

“Lapindo selama 12 tahun ini hanya mengurusi masalah lumpur, tapi pada akhir 2018 sampai sekarang sudah bisa menambah kegiatan utama yaitu eksploitasi. Setidaknya satu sumur bisa menambah gas 5-8 mmscfd.  Sedangkan untuk proyek di Tanggulangin 6 saat ini masih dalam proses,” jelasnya.

Selain itu, masih ada proyek eksplorasi dari Saka Energi di Lapangan Sidayu, Tambak Boyo, Pangkah Kulon di Gresik yang diperkirakan bisa memproduksi 100 -200 mmscfd, serta Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) di Lapangan Kedung Keris Bojonergoro  yang diharapkan bisa memproduksi 10.000 BOPD.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
skk migas, produksi migas

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup