Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Observasi Benteng Kedung Cowek Gandeng Pemerhati Sejarah

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya menggandeng komunitas pemerhati sejarah untuk melakukan observasi terhadap nilai-nilai sejarah keberadaan Benteng Kedung Cowek.

Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 01 Agustus 2018  |  17:30 WIB
Observasi Benteng Kedung Cowek Gandeng Pemerhati Sejarah
/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya menggandeng komunitas pemerhati sejarah untuk melakukan observasi terhadap nilai-nilai sejarah keberadaan Benteng Kedung Cowek.

Kadispursip Surabaya, Musdiq Ali Suhudi mengatakan observasi tersebut dilakukan guna menggali informasi lebih dalam tentang sejarah Benteng Kedung Cowek sebelum menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata sejarah Kota Surabaya.

"Ke depan, benteng ini bisa menjadi salah satu spot destinasi wisata yang unik," katanya dalam rilis, Rabu (1/8/2018).

Menurutnya, Benteng Kedung Cowek ini bisa menjadi salah satu dari rangkaian wisata pantai timur Surabaya (Pamurbaya), mulai dari wisata Mangrove Gunung Anyar, Mangrove Wonorejo, Pantai Ria Kenjeran, THP Kenjeran, Jembatan Suroboyo, Sentra Ikan Bulak, Cable Card, Lapangan Tembak, Benteng Kedung Cowek dan Jembatan Suramadu.

“Kalau obyek-obyek ini bisa saling diintegrasikan, ini akan menjadi salah satu obyek wisata yang kompleks dan orang yang berkunjung ke Surabaya akan mengalami irama yang berbeda-beda,” katanya.

Salah satu pendiri komunitas pemerhati sejarah, Roode Brug Soerabaia, Ady Setyawan mengungkapkan Benteng Kedung Cowek ini punya peranan penting dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945.

Bukti kedahsyatnya pertempuran Surabaya masih terlihat jelas dari bekas bangunan benteng yang rusak imbas dari tembakan senjata.

Bahkan dari hasil penelusuran di lokasi, ditemukan beberapa peluru yang masih bersarang di tembok benteng.

“Pada perang 10 November, benteng ini digunakan oleh bekas pasukan Heiho bentukan Jepang yang merupakan orang-orang yang berasal dari Sumatera,” jelasnya.

Bekas pasukan Heiho ini, lanjutnya, pernah bertempur di Pulau Morotai dengan kondisi kalah perang.

Ketika pasukan ini sampai di Surabaya, oleh Kolonel Wiliater Hutagalung mereka diminta untuk kembali membantu melawan sekutu.

"Benteng ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa pada 1945 terdapat rasa satu nusa, satu bangsa, untuk berjuang bersama mempertahankan Indonesia dari para penjajah sudah kuat," ujarnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surabaya benteng
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top