Pemkab Blitar dan Pemkab Tuban Kerja Sama Perdagangan Jagung

Oleh: Choirul Anam 07 September 2018 | 06:04 WIB
Pemkab Blitar dan Pemkab Tuban Kerja Sama Perdagangan Jagung
Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto (tengah) bersama dengan Ketua Umum Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar, Rofi Yasifun (kanan) dan petani jagung asal Kec. Palang, Tuban, Heri, di Tuban, Rabu (5/9/2018)./Bisnis-Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Pemkab Blitar dan Pemkab Tuban dengan fasilitasi Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kediri bekerja sama di sektor perdagangan untuk memasok jagung pada usaha ternak ayam petelur di Kab. Blitar terkait dengan larangan impor komoditas pertanian tersebut.

Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto mengatakan dengan adanya larangan impor komoditas maka harga jagung naik karena diperebutkan peternakan ayam rakyat dan pabrikan.

“Solusinya, peternak harus memperoleh jagung dari sentra produksi, seperti di Tuban yang merupakan penghasil jagung terbesar nasional,” katanya dihubungi dari Malang, Kamis (6/9/2018).

Dengan mengakses langsung ke petani, kata dia, maka peternak dan petani memperoleh keuntungan karena memperoleh harga yang wajar, karena mata rantai perdagangan menjadi terpotong, menjadi pendek, yakni transaksi langsung antara pengguna, peternak ayam petelur, dengan produsen, petani jagung, di Tuban.

Peternak ayam petelur di Kab. Blitar, kata dia, perlu dijaga keberlangsungan usahanya karena produksi telur ayam dari daerah tersebut terbesar secara nasional.

Dengan demikian, jika harga jagung tinggi sehingga harga pakan ternak otomatis tinggi karena komoditas tersebut komponen utamanya, maka dikhawatirkan harga telur akan melonjak naik. Begitu juga dengan harga ayam pedaging.

“Padahal, telur maupun ayam pedaging banyak dikonsumsi sehingga bobotnya dalam penghitungan inflasi menjadi besar pula. Karena itulah, jika harga jagung naik tinggi, maka otomatis harga telur naik, dan inflasi akan naik pula,” katanya di Tuban, Rabu (5/9/2018).

Kabag Perekonomian dan Pembangunan Kab. Blitar, Tuti Komaryati, mengatakan dalam kerja sama tersebut antara Pemkab Blitar dan Pemkab Tuban bisa mengacu pada perjanjian kerja sama pembelian telur antara Pemkab Blitar dan Pemprov DKI.

Dalam kerja sama tersebut, ada acuan harga terendah dan tertinggi harga telur. Ketika harga telur naik tajam, peternak ayam petelur Kab. Blitar tidak serta merta menjual telur ke Pemprov DKI sesuai harga pasar. Harga telur justru dijual di bawah harga pasar.

Begitu juga saat harga telur rendah, Pemprov DKI tidak membeli harga telur sesuai harga pasar, melainkan mengacu lebih tinggi sedikit dari harga patokan produksi (HPP).

“Pernah terjadi, harga telur mencapai Rp28.000/kg, peternak menjual seharga itu, melainkan hanya Rp23.000/kg, namun pernah terjadi harga telur mencapai Rp13.500/kg, Pemprov DKI justru membeli Rp18.000/kg, masih di atas HPP telur yang mencapai Rp15.000,” ucapnya. Setiap bulan peternak memasok telur ke Jakarta lewat Pemprov DKI sebanyak 350 ton.

Produksi telur ayam di Blitar mencapai 450-600 ton/hari dari usaha ternak milik ribuan peternak yang tersebar di hampir semua kecamatan di daerah tersebut.

Ketua Umum Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar, Rofi Yasifun, membenarkan sinyalemen tersebut. Intinya, dalam kerja sama tersebut kedua bilah saling diuntungkan, tidak ada yang dirugikan.Kebutuhan jagung peternak di sana mencapai 1.000 ton/hari.

Karena itulah, Dayat, peternak ayam petelur di Kab. Blitar, menambahkan, kerja sama tersebut idealnya diikat dalam jangka panjang. Dengan begitu, maka peternak memperoleh kepastian mendapatkan pasokan jagung dalam jangka panjang, begitu juga petani memperoleh kepastian pasar jagung dalam jangka waktu yang lama.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tuban Murtadji dan Kabag Perekonomian dan Pembangunan Kab. Blitar Tuti Komaryati bersepakat perjanjian perdagangan tersebut diatur dengan skema antara pemda dengan pemda. Dengan begitu, jika ada permasalahan dalam pelaksanaannya, maka pemda bisa menegur petani maupun peternak. Ada institusi yang bertanggung jawab.

Murtadji mengungkapkan, target tanam jagung di 2018 mencapai 97.067 hektare, namun realisasi justru jauh melampaui, yakni 119.118 hektare. Begitu juga target panen yang dipatok 92.215 hektare, namun realisasinya mencapai 112.437 hektare.

Produksi jagung, mencapai 606.1632 ton dengan produktivitas lahan mencapai 5,4 ton/hektare.

Luas tambah tanam (LTT) jagung di 2018 sebesar 109.704 hektare dan realisasi sampai dengan 18 Juli 2018 seluas 104.631 hektare atau mencapai 95%.

Kunjungan peternak dan organisasi perangkat daerah Pemkab. Blitar yang difasilitasi KPw BI Kediri, Rabu (5/9/2018), menghasilkan kesepakatan transaksi antara peternak dan petani. Petani sepakat untuk mengirim jagung ke Blitar sebanyak 10 ton untuk tahap awal dengan harga yang telah disetujui.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya