Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Program Electrifying Agriculture PLN Tekan Biaya Produksi Pertanian 65%

Program electrifying agriculture PT PLN yang telah diterapkan di Ponorogo diklaim telah mampu menekan biaya produksi pertanian sampai 65%.
Pemasangan listrik di kawasan persawahan dalam program Electrifiying Agriculture di Ponorogo./Dok. PLN Jatim
Pemasangan listrik di kawasan persawahan dalam program Electrifiying Agriculture di Ponorogo./Dok. PLN Jatim

Bisnis.com, SURABAYA — Program electrifying agriculture PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur yang telah diterapkan di Ponorogo di klaim telah mampu menekan biaya produksi pertanian sampai 65%.

General Manager PLN UID Jatim, Agus Kuswardoyo mengatakan, elektrifikasi di sektor pertanian merupakan salah satu langkah PLN untuk mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.

“Program elektrifikasi untuk pertanian ini terus digiatkan di Jatim. Seperti di Banyuwangi kami melistriki lahan perkebunan buah naga, di Gresik untuk kebun jeruk, ada juga untuk peningkatan produktivitas peternakan serta pertanian di berbagai wilayah," jelas Agus dalam rilis, Rabu (13/12/2023).

Dia menambahkan, saat ini di PLN UID Jatim telah memiliki sebanyak 20.486 pelanggan untuk program electrifying agriculture dengan total daya tersambung 84.211 kVA.

“Di Ponorogo, kami melakukan penandatanganan kesepakatan bersama program agriculture bundling package (listrik masuk sawah) dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo di Desa Ngampel, Kecamatan Balong, Ponorogo pada 11 Desember lalu,” imbuhnya.

Melalui program listrik masuk sawah tersebut, tambah Agus, saat ini sebanyak 821 petani di 10 lokasi telah beralih menggunakan listrik PLN. Selama ini, pengairan sawah di Ponorogo menggunakan sistem sawah tadah hujan alias hanya mengandalkan mesin konvensional atau pompa berbasis genset/tenaga diesel dengan biaya yang cukup tinggi. Namun dengan penggunaan pompa berbasis listrik ini, dapat menghemat biaya produksi tanaman sekaligus meningkatkan produksi pangan. 

Kholid (50), salah satu petani yang merasakan manfaat dari program listrik masuk sawah ini mengatakan, sebelumnya para petani di wilayahnya menggunakan genset berbahan bakar solar untuk membantu pengairan sawah dan menghabiskan dana jutaan rupiah dalam semusim. 

"Dalam satu musim tanam untuk sawah seluas 1 ha biasanya menghabiskan biaya sekitar Rp1,4 juta jika menggunakan diesel berbahan bakar solar. Sedangkan jika menggunakan pompa listrik dari 5 sumur hanya membutuhkan biaya Rp500.000, jadi bisa menghemat 65%,” ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper