Beras Jadi Pemicu Utama Inflasi Kota Malang pada September 2023

Beras menjadi penyebab utama inflasi di Kota Malang pada September 2023 yang mencapai 0,18 persen, 1,67 ytd, dan 2,27 persen yoy.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MALANG—Beras menjadi penyebab utama inflasi di Kota Malang pada September 2023 yang mencapai 0,18 persen, 1,67 ytd, dan 2,27 persen yoy.

Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan komoditas lainnya yang menjadi penyebab inflasi, yakni bensin, biaya pulsa ponsel, dan kenaikan harga cabai merah.

Harga beras masih mengalami kenaikan inflasi komoditas beras pada September 2023 mencapai 6,62 persen,” katanya, Senin (2/10/2023).

Tingginya harga beras dipengaruhi beberapa faktor, yakni musim tanam gadu, penurunan luas panen, faktor cuaca, terjadinya El Nino, dan kebijakan pemberhentian ekspor beras oleh India.

Sedangkan kenaikan harga beberapa jenis BBM, yakni 0enyesuaian harga BBM pada 1 September 2023, Pertamax dari Rp12.500 menjadi Rp. 13.300/liter, Pertamax Turbo dari Rp. 14.400 menjadi Rp15.900/liter Pertamina Dex dari Rp14.350 menjadi Rp. 16.950/liter Dexlite dari Rp13.950 menjadi Rp16.350/liter.

Kelompok energi pada September mengalami inflasi sebesar 0,93 persen (m-to-m), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,05 persen. Secara year on year, kelompok energi mengalami deflasi sebesar 0,02 persen.

Komponen bahan makanan pada September mengalami deflasi sebesar 0,22 persen (mtm), mengalami percepatan jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,13 persen. Inflasi ini didorong oleh kenaikan harga beras, cabai merah, tongkol diawetkan, kentang, dan semangka.

“Adapun secara year on year, inflasi bahan makanan pada September sebesar 5,38 persen,” ucapnya.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso menilai Kenaikan harga beras selama hampir dua bulan memberikan tekanan inflasi pada September.

Produksi dalam negeri berkurang karena dampak El Nino dan impor yang terbatas membuat pasokan beras berkurang sehingga mendorong kenaikan harga. Disisi lain penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga memberikan andil pada inflasi pada September.

“Tentunya, kemarau yg diprediksi sampai November, langkah cepat di jangka pendek harus diantisipasi dengan pasokan beras melalui kran impor terbatas dan dalam pengawasan yang ketat,” ucap Joko yang juga Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi FEB UB itu.

Selanjutnya, kata dia, skema cuaca buatan harus segera dilakukan, untuk menjaga pola tanam komoditas pangan dan hortikultura dapat terjaga. Hal yang tak kalah penting, yakni program diversifikasi pangan harus terus dilakukan secara berkelanjutan guna mengurangi ketergantungan pada beras.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Choirul Anam
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper