Pengembangan Tanaman Jagung Didorong Pakai Varietas Hibrida Bioteknologi

Pengembangan tanaman jagung di Indonesia didorong untuk menggunakan varietas jagung hibrida bioteknologi yang diyakini dapat meningkatkan produktivitas.
Syngenta Indonesia melakukan panen jagung bioteknologi NK Pendekar Sakti di area Agrotechnopark, Universitas Jember Jatim./Istimewa
Syngenta Indonesia melakukan panen jagung bioteknologi NK Pendekar Sakti di area Agrotechnopark, Universitas Jember Jatim./Istimewa

Bisnis.com, SURABAYA — Pengembangan tanaman jagung di Indonesia didorong untuk menggunakan varietas jagung hibrida bioteknologi yang diyakini dapat meningkatkan produktivitas sehingga target produksi pangan dapat tercapai.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi menyampaikan, tahun ini pemerintah menargetkan produksi jagung sebesar 30 juta ton pipilan kering dengan sasaran luas tanam 5,26 juta ha. Sedangkan pada, 2024 saat jumlah penduduk Indonesia mencapai 318 juta Jiwa, kebutuhan jagung ditarget mencapai 70 juta ton dan surplus 8 juta ton untuk ekspor.

“Namun terbatasnya sumber daya alam memerlukan strategi yang tepat dalam pencapaian sasaran produksi tersebut. Untuk itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan produktivitas dengan menggunakan produk hibrida,” katanya dalam rilis, Rabu (13/9/2023).

Menurutnya, produk hibrida dapat memberikan kontribusi positif bagi ketahanan pangan karena memiliki keunggulan ketahanan terhadap serangga, virus, mengurangi penggunaan pestisida kimia, kekeringan, perbaikan nutrisi, yang akhirnya berkontribusi pada peningkatan hasil. 

Seperti diketahui, potensi produksi jagung lokal hanya berkisar 3-4 ton/ha dan jagung komposit berkisar 5-7 ton/ha, sedangkan potensi produksi jagung hibrida dapat mencapai 12-14 ton/ha. Pada 2024 pula diharapkan produktivitas jagung di Indonesia bisa mencapai 7 - 8 ton/ha.

“Jagung hibrida yang memiliki potensi hasil lebih tinggi dari varietas-varietas jagung komposit merupakan salah satu upaya untuk peningkatan produksi jagung,” imbuhnya.

Pada 13 September ini, Syngenta Indonesia melakukan panen jagung bioteknologi NK Pendekar Sakti di area Agrotechnopark, Universitas Jember Jatim.

Jagung bioteknologi ini diklaim sebagai jagung pertama di Indonesia yang memiliki keunggulan ganda yaitu toleran terhadap herbisida glifosat dan tahan hama penggerek batang (Asian Corn Borer/Ostrinia furnacalis). Jagung bioteknologi juga ini lebih mudah dibudidayakan, ekonomis, dan memberikan hasil yang lebih tinggi. 

Seed Business Head Syngenta Indonesia, Fauzi Tubat menyebutkan bahwa produktivitas jagung hibrida bioteknologi ini sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan produktivitas jagung hibrida konvensional. 

Apabila ditanam secara luas di Indonesia, varietas ini dapat mendongkrak panen jagung dari rata-rata nasional sebesar 5,3 ton/ha menjadi sekitar 7 ton/ha. 

“Salah satu varietas  jagung hibrida bioteknologi ini adalah NK Pendekar Sakti yang memiliki potensi hasil hingga sebesar 11,8 ton/ha pipilan kering. Kami berharap jagung hibrida bioteknologi dengan keunggulan ganda ini dapat memberikan hasil panen melimpah untuk petani,” ujarnya.

Dia mengatakan, keunggulan ganda pada varietas unggul ini diharapkan dapat membantu petani menekan ongkos produksi, meningkatkan kualitas hasil panen dan menjadikan budidaya jagung lebih mudah dan nyaman.

Adapun jagung bioteknologi pertama kali diperkenalkan saat Pekan Nasional (Penas) Tani dan Nelayan Andalan XVI pada Juni lalu di Padang, Sumatra Barat. Hingga kini ada tiga varietas jagung bioteknologi Syngenta yang sudah diperkenalkan kepada petani dan masyarakat yaitu NK Pendekar Sakti, NK Sumo Sakti, dan NK Perkasa Sakti. 

Syngenta sendiri melakukan riset dan inovasi selama bertahun-tahun untuk menemukan varietas jagung hibrida bioteknologi yang menjadi solusi terhadap tantangan petani sekaligus menjadi penopang tercapainya target produksi jagung nasional pada tahun 2045. 

Benih jagung unggul varietas NK Pendekar Sakti, NK Sumo Sakti, dan NK Perkasa Sakti ini diproduksi di dalam negeri dengan melibatkan lebih dari 70.000 petani mitra yang secara bertahap diharapkan dapat memenuhi kebutuhan benih jagung nasional. 

Abubakar, petani jagung asal Jember, mengaku telah menanam jagung sejak puluhan tahun dengan hasil tanaman jagung lokal hanya 4 ton/ha. Namun setelah mencoba variets jagung hibrida bioteknologi hasil panen meningkat hingga lebih dari 11 ton/ha. 

“Saya sudah coba menanam jagung hibrida bioteknologi dan hasilnya jauh meningkat, terlebih biaya produksi bisa ditekan hingga lebih dari 30 persen, dan selama budi daya merasa tenang dan nyaman karena bebas dari ancaman hama penggerek batang,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper