Komoditas Jahe dari Jatim Tembus Ekspor Empat Negara

PT Enha Sentosa Indonesia berhasil menembus pasar ekspor untuk produk tanaman obat atau biofarmaka berupa jahe ke empat negara tujuan.
Seremoni pengiriman ekspor komoditas jahe PT Enha Sentosa Indonesia ke Bangladesh./Dok. Bank Jatim
Seremoni pengiriman ekspor komoditas jahe PT Enha Sentosa Indonesia ke Bangladesh./Dok. Bank Jatim

Bisnis.com, SURABAYA — PT Enha Sentosa Indonesia, salah satu nasabah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) berhasil menembus pasar ekspor untuk produk tanaman obat atau biofarmaka berupa jahe ke empat negara tujuan.

Owner Enha Sentosa Indonesia, Hanif Setyobudi mengatakan negara tujuan ekspor jahe yang diproduksinya saat ini adalah Bangladesh, Pakistan, Turki dan Dubai.

“Awalnya ekspor jahe kami lakukan hanya ke Bangladesh pada 2022 sebanyak 2022 sebanyak 12 kontainer. Saat ekspor itu juga saya tidak berpikir untung rugi yang penting bisa ekspor dulu dan petani bisa maju,” ujarnya, Senin (22/5/2023).

Hanif menceritakan, usahanya pertama kali bergerak di bidang produksi jagung yang hanya butuh waktu tiga bulan untuk bisa panen. Namun usahanya tersebut sempat gulung tikar hingga Hanif memutuskan merantau ke Kalimantan.

“Di Kalimantan saya bertemu sahabat yang mengerti tentang pengembangan jahe akhirnya saya mencoba menanam dengan memberi bibit jahe lima ton ditanam di Kalimantan,” ujarnya.

Lantaran berhasil, Hanif akhirnya kembali pulang ke Ponorogo untuk meneruskan usaha pengembangan jahe di Pulau Jawa. Tahun ini saja, Enha berhasil mengantongi kontrak ekspor jahe sebanyak 100 kontainer ke Bangladesh dengan bantuan permodalan dari Bank Jatim sebesar lebih dari Rp1 miliar.

“Sejak awal mulai usaha, Bank Jatim terus membantu saya, tidak hanya dari sisi bantuan modal saja, tapi juga mulai dari tata cara pembukuan dan administrasi yang baik, serta pengeluaran harus balance,” imbuhnya.

Direktur Utama Bank Jatim, Busrul Iman mengatakan pembiayaan kredit Bank Jatim yang telah disalurkan kepada petani Jahe ini diharapkan dapat mencukupi kebutuhan jahe baik di pasar nasional maupun internasional sehingga kesejahteraan petani bisa semakin baik. 

"Kami sangat mendukung pembiayaan produktif di bidang pertanian, karena Jawa Timur memiliki banyak komoditi yang menjanjikan untuk dikembangkan. Potensi pasarnya pun juga sangat besar, baik di dalam maupun luar negeri," ujarnya.

Busrul menambahkan, Bank Jatim sendiri berkomitmen untuk mendukung semua nasabahnya dalam mengembangkan usahanya termasuk nasabah yang berorientasi ekspor melalui penjajakan pasar luar negeri yang dinilai memiliki dampak positif bagi perekonomian negara.

Adapun Bank Jatim pada kuartal I/2023 mencatatkan kinerja penyaluran kredit sebesar Rp47,99 miliar atau tumbuh 13,44 persen (year-on-year/yoy). Dari total capaian tersebut disumbang oleh kredit konsumer Rp29,147 miliar atau tumbuh 17,43 persen (yoy), dan segmen kredit produktif atau kredit komersial dan Small Medium Enterprise (SME)/UMKM tercapai Rp18,84 miliar atau tumbuh 7,77 persen (yoy). 

Di dalam sektor produktif ini terdapat segmen usaha mikro sebesar Rp5,79 miliar, usaha kecil Rp5,11 miliar, usaha menengah Rp443 miliar, dan segmen komersial dan korporat Rp7,49 miliar.

Produksi Jahe Jatim

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Dydik Rudy Prasetya mengatakan produksi sejumlah jenis tanaman biofarmaka Jatim dalam dua tahun ini mengalami peningkatan meskipun ada tantangan penurunan luas lahan tanam.

“Sejumlah komoditas tanaman biofarmaka yang mengalami peningkatan produksi dari 2021 ke 2022 di antaranya seperti jahe, kapulaga, kencur, kunyit, mahkota dewa, akar rimpang, sambiloto, dan serai hijau,” ujarnya.

Seperti jahe misalnya, pada 2022 produksinya mencapai 31.456.739 kg atau naik dibandingkan produksi pada 2022 yang hanya mencapai 27.595.251 kg. Per kuartal I/2023, produksi jahe di Jatim sudah mencapai 2.963.394 kg.

Sentra produksi jahe di Jatim sendiri terletak di Pacitan dengan jumlah produksi pada 2022 sebanyak 9.787.505 kg, disusul Malang 4.859.318 kg, Magetan 2.677.002 kg, Ponorogo 2.036.601 kg, Trenggalek 2.340.009 kg, serta disusul Situbondo, Pasuruan, dan Probolinggo yang masing-masing menghasilkan jahe rerata di atas 1 juta - 1,5 juta kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper