Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PPKM Dicabut, Surabaya Tetap Mengimbau Pemakaian Masker di Keramaian

Pemakaian masker di tempat keramaian dan ruang tertutup. Kalau ada orang yang merasa (bergejala) sakit (Covid-19) maka dilakukan isolasi secara mandiri.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Januari 2023  |  16:02 WIB
PPKM Dicabut, Surabaya Tetap Mengimbau Pemakaian Masker di Keramaian
Petugas meminta kendaraan untuk berputar balik karena tidak berkepentingan saat ingin memasuki Kota Surabaya di Bundaran Waru, Surabaya, Jawa Timur, Senin (2/8/2021). - Antara/Umarul Faruq.
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan sejumlah strategi untuk percepatan laju perekonomian di Kota Pahlawan itu pasca-pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dicabut pemerintah pusat.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Selasa (3/1/2023), mengatakan, meskipun kota itu menerapkan kebijakan PPKM pada 2022, namun Pemkot Surabaya berhasil meningkatkan laju ekonomi menjadi 7,17 persen.

"Kami akan segera mengumpulkan para RT/RW di tiap kelurahan untuk memaparkan strategi Pemkot Surabaya dalam percepatan kegiatan perekonomian. Itu karena pembangunan, penyelesaian permasalahan kemiskinan dan pengangguran juga bergantung peran serta masyarakat," kata Cak Eri panggilan lekatnya.

Selain itu, usai mengikuti Rapat Koordinasi Penjelasan Pencabutan PPKM yang digelar secara daring oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan diikuti seluruh Gubernur dan Bupati/Wali kota seluruh Indonesia, Cak Eri menjelaskan, Satuan Gugus Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya akan tetap bertugas.

Tentunya, kata dia, hal ini merujuk pada Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 53 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 pada Masa Transisi Menuju Endemi.

"(Hasil) rapat ini PPKM ditiadakan, tapi tetap ada catatan. Pertama, bagaimana Satgas Covid-19 tetap ada untuk mencegah lonjakan Covid-19. Kedua, disampaikan pada pemakaian masker di tempat keramaian dan ruang tertutup. Kalau ada orang yang merasa (bergejala) sakit (Covid-19) maka dilakukan isolasi secara mandiri," ujar dia.

Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta masyarakat Kota Surabaya dalam membatasi pergerakan virus Covid-19. Sebab, jika terjadi kenaikan angka kasus Covid-19, maka hal tersebut diakibatkan oleh jenis mutasi virus atau munculnya varian baru Covid-19.

Untuk itu, Cak Eri kembali mengingatkan kepada masyarakat Kota Surabaya pentingnya penerapan protokol kesehatan untuk mencegah laju Covid-19.

"Disampaikan pak Menkes (Budi Gunadi) juga, Covid-19 ini bukan karena tahun baru atau lebaran tetapi karena setiap varian baru mereka ada lonjakan. Insya Allah sampai dengan Agustus kami akan melakukan itu sambil melihat pergerakan-pergerakan. Kalau nanti sampai Agustus itu tidak ada lonjakan maka dilakukan endemi," kata dia.

Lebih lanjut, Wali Kota Eri menjelaskan, kondisi Kota Surabaya dalam upaya penanganan Covid-19 terjadi penurunan kasus. Meski demikian, kata dia, pihaknya tetap berupaya menggencarkan vaksinasi dosis 3 (booster) di tingkat RW.

Camat dan lurah juga diminta untuk mendeteksi warganya yang belum melakukan vaksin booster berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

"Alhamdulillah landai, kalau turunnya (Covid-19) cepat. Pasien sembuhnya cepat, berarti tinggi imunnya. Sehingga salah satu faktor untuk melakukan pencegahan ini adalah imun (vaksinasi) booster. Kami terapkan di masing-masing kecamatan dan kelurahan untuk melihat data Dinkes, siapa warganya yang belum vaksin booster cukup di balai RW, itu yang kami lakukan. Semoga kami bisa segera menuju ke endemi," ujar Cak Eri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surabaya Covid-19 PPKM Darurat

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top