Ingin Diklaim Malaysia, Reog Ponorogo Berjuang Diakui Unesco

Saat ini, Malaysia tengah memburu klaim Reog sebagai warisan budayanya. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia agar lebih perhatian dengan budaya yang dimiliki.
Sejumlah seniman Reog Ponorogo dalam Penyambutan Obor Asian Games 2018 di depan Balaikota, Malang, Jawa Timur, Jumat (20/7). Saat ini Reog terancam diklaim oleh Malaysia sebagai warisan budayanya. /Antara-Ari Bowo Sucipto
Sejumlah seniman Reog Ponorogo dalam Penyambutan Obor Asian Games 2018 di depan Balaikota, Malang, Jawa Timur, Jumat (20/7). Saat ini Reog terancam diklaim oleh Malaysia sebagai warisan budayanya. /Antara-Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah memperjuangkan Reog Ponorogo agar diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik Kabupaten Ponorogo.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan saat ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim tengah melakukan koordinasi dengan Kabupaten Ponorogo secara intensif untuk menerjemahkan beberapa persyaratan pengajuan kepada United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco). 

“Ini waktunya memang sangat pendek dalam maksimalisasi untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang terkait dari keabsahan bahwa Reog Ponorogo itu memang terlahir dari Ponorogo Jawa Timur Indonesia,”  ujarnya, Jumat (8/4/2022).

Dia mengatakan saat ini Reog memang sedang diincar negara lain yakni Malaysia sebagai warisan budayanya. Negeri Jiran itu, kata Khofifah,  tengah mengupayakan hal yang sama kepada Unesco. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia agar lebih perhatian dengan budaya yang dimiliki. 

“Ini menjadi momentum sekaligus pengingat bagi pemerintah Indonesia dan Jawa Timur khususnya Bupati Ponorogo untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang bisa memberikan penguatan kepada Unesco bahwa Reog memang adalah warisan budaya tak benda dari Ponorogo,” ujarnya. 

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah sangat perlu mendokumentasikan dan melakukan penelusuran sejarah untuk setiap warisan budaya yang dimiliki. Hal itu dilakukan sebagai bukti administratif dan autentik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Sinarto mengatakan persoalan pendokumentasian sejarah memang masih menjadi kelemahan.  

“Soal sejarah, memang kita punya kelemahan, kadang-kadang telat menulis dari pada perjalanan kebudayaan. Nah inilah yang harus diperhatikan dan menjadi lebih serius," ujarnya.

Saat ini, lanjut Sinarto, pihaknya terus berkoordinasi dengan Ponorogo untuk mencoba menerjemahkan beberapa persyaratan yang diminta oleh Kemendikbud sebagai pemenuhan pengajuan ke UNESCO.

“Kami akan berupaya membantu hal ini dengan mengumpulkan sejarawan. Inilah yang menjadikan kita harus lebih serius untuk menggandeng teman-teman yang punya kemampuan menulis dalam mencatat sejarah kebudayaan kita,” katanya.

Sinarto menjelaskan, jika dilihat secara faktual, Reog memang lebih kuat berasal dari Ponorogo. Hanya saja, yang menjadi masalah adalah dokumentasi sejarah. 

“Pengakuan-pengakuan masih ada saja karena kita masih serumpun. Artinya kalau ada perpindahan kesenian ini masih kemungkinan terjadi,” imbuhnya.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper