Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Pengolahan Jatim Menunjukkan Tren Perbaikan

Perbaikan kinerja industri pengolahan juga tercermin dari peningkatan kapasitas produksi, penjualan domestik, dan konsumsi listrik industri
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 06 April 2021  |  15:55 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, SURABAYA - Sektor industri pengolahan di Jawa Timur terus menunjukkan perbaikan setelah sempat terkontraksi cukup dalam akibat pandemi Covid-19 yang terjadi sejak kuartal II/2020.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan industri pengolahan di Jatim pada tahun lalu memang mengalami kontraksi akibat penurunan permintaan global dan domestik serta penurunan pendapatan masyarakat karena pandemi.

“Namun kinerja industri pengolahan ini terus menunjukkan perbaikan dimulai pada kuartal IV/2020 yang terkontraksi -2,49 persen atau lebih rendah dari kuartal III/2020 yakni -3,27 persen, bahkan di kuartal pertama tahun ini terus membaik,” katanya, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya perbaikan sektor industri pengolahan ini ini sejalan dengan kebijakan vaksinasi Covid-19, dan implementasi kebiasaan normal baru yang mendorong geliat perbaikan kinerja industri pengolahan.

“Selain itu, untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah mengeluarkan relaksasi PPH pasal 21 untuk pekerja di industri pengolahan yakni sebanyak 189 bidang industri dengan pendapatan hingga Rp200 juta per tahun,” ujarnya.

Difi mengatakan prospek peningkatan permintaan industri pengolahan di Jatim ini juga sejalan dengan kinerja mitra dagang domestik Jatim yang meningkat, ditambah stimulus lain berupa keringanan pembayaran serta subsidi listrik bagi industri.

“Perbaikan kinerja industri pengolahan juga tercermin dari peningkatan kapasitas produksi, penjualan domestik, dan konsumsi listrik industri,” katanya.

Berdasarkan hasil liaison Bank Indonesia, kapasitas produksi industri pengolahan di Jatim pada kuartal IV/2020 sebesar 70,55 persen, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 66,16 persen. 

Permintaan domestik terhadap sektor industri pengolahan di Jatim meningkat, tercermin pada likert scale (LS) dari -0,19 pada kuartal III/2020 menjadi LS 0,16. Perbaikan kinerja industri pengolahan juga terlihat dari pertumbuhan konsumsi listrik industri dari -5,93 persen (yoy) pada kuartal III menjadi kontraksi -3,10 persen (yoy) pada kuartal IV/2020. 

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan selama ini manufaktur dan industri pengolahan telah menyumbang perekonomian Jatim sebesar 30 persen. Dengan kontribusinya yang cukup besar dibutuhkan dorongan kuat agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih kecang.

“Manufaktur merupakan sektor prioritas kita karena menyumbang ekonomi kita. Kalau manufaktur membaik, ini akan mendorong sektor-sektor lainnya, ketika sebuah barang diproduksi ini akan membawa multiplier effect bagi yang lainnya,” jelasnya.

Dia mengatakan pemerintah sendiri telah banyak mengeluarkan kebijakan untuk mendorong daya beli masyarakat maupun untuk menggerakkan industri-industri yang sempat terpukul akibat pandemi.

“Sektor industri, perdagangan, akomodasi, makanan dan minuman adalah sektor yang terpukul, tapi ada satu-satunya sektor yang masih solid yaitu pertanian. Ini juga yang harus kita dorong,” katanya.

Emil berharap, dengan berbagai upaya stimulus pemerintah maupun kemudahan izin berusaha yang telah disiapkan Pemprov Jatim ke depan bisa meyakinkan pengusaha untuk mau berinvestasi.

“Untuk menggenjot ekonomi, kita harus jalan bersama, pengusaha harus optimistis, jangan ada yang pesimis,” imbuhnya.

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top