Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beberapa Hari Terakhir Sungai Tambak Wedi di Surabaya Berbusa, Ada Apa?

DLH memantau dan memeriksa busa yang muncul di muara Sungai Tambak Wedi
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  10:07 WIB
Nelayan beraktivitas di muara Sungai Tambak Wedi yang permukaannya penuh busa putih di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/3/2020). - Antara
Nelayan beraktivitas di muara Sungai Tambak Wedi yang permukaannya penuh busa putih di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/3/2020). - Antara

Bisnis.com, SURABAYA - Busa yang dalam beberapa hari terakhir muncul di Sungai Tambak Wedi di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, terjadi akibat cemaran limbah rumah tangga menurut pejabat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup DLH Kota Surabaya Ulfiani Ekasari di Surabaya, Selasa (24/3/2021), mengatakan bahwa sekitar 80 persen dari polutan yang masuk ke Sungai Tambak Wedi berasal dari rumah tangga.

"Hal itu yang kemudian menyebabkan muara sungai berbusa karena kandungan surfaktan menurunkan tegangan pada permukaan air," katanya.

"Nah, surfaktan ini akan menurunkan tegangan permukaan ketika ada pengadukan atau misal dari pompa yang jalan dan sebagainya. Jadi karena ada polutan yang masuk terutama dari organik detergen, sehingga kalau ada pengadukan itu timbul busa," tukas Ulfiani.

DLH, menurut dia, memantau dan memeriksa busa yang muncul di muara Sungai Tambak Wedi dan menyimpulkan bahwa polutan itu berasal dari rumah tangga.

"Sungai Tambak Wedi rutin kita ambil sampling. Kemarin kita sudah susuri bersama pihak kepolisian juga. Pengendalian memang harus dilakukan dari sumbernya, rumah tangga," katanya.

Dalam upaya mencegah pencemaran sungai, Pemerintah Kota Surabaya telah mendorong masyarakat membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal.

"Total IPAL komunal di Surabaya ada sekitar 200-an. Tujuannya untuk mengendalikan polutan yang ada di rumah tangga, dari greywater (air bekas mandi, cuci, kaskus).”

Selain itu, DLH berusaha memastikan perusahaan-perusahaan yang berada di dekat aliran sungai memiliki IPAL saat mengajukan izin operasi.

"Kami juga melakukan pengawasan yang ketat," katanya.

Pemerintah kota juga membantu pembangunan IPAL di puskesmas dan sentra usaha. Tujuannya untuk mengendalikan polutan yang masuk ke sungai. Namun demikian, upaya yang paling efektif untuk mencegah pencemaran sungai adalah mengelola limbah rumah tangga.

Dia juga mengemukakan pentingnya sinergi antar-pemerintah daerah dalam mengatasi masalah pencemaran sungai.

"Kalau terkait dengan sungai kita tidak bisa kerja sendiri, karena harus menyeluruh, dengan kabupaten atau kota lain," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surabaya sungai

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top