Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kunjungan Kafe & Resto di Surabaya Turun 30 Persen

Dampak itu pasti ada, tapi memang tidak sedrastis prediksi sampai separuhnya atau 50 persen.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  12:09 WIB
Petugas hotel menyemprotkan cairan anti septic (disinfektan) disalah satu hotel dan cafe di Blitar, Jawa Timur, Senin (17/3/2020). Selain untuk mencegah penyebaran COVID-19, sejumlah pengusaha hotel dan kuliner didaerah tersebut melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada pengunjung serta diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan di tengah merebaknya penyebaran COVID-19. - Antara/Irfan Anshori
Petugas hotel menyemprotkan cairan anti septic (disinfektan) disalah satu hotel dan cafe di Blitar, Jawa Timur, Senin (17/3/2020). Selain untuk mencegah penyebaran COVID-19, sejumlah pengusaha hotel dan kuliner didaerah tersebut melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada pengunjung serta diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan di tengah merebaknya penyebaran COVID-19. - Antara/Irfan Anshori

Bisnis.com, SURABAYA - Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur menyebut tingkat kunjungan kafe dan restoran di Surabaya sudah tampak ada penurunan 20 persen - 30 persen dari rata-rata hari biasanya karena isu wabah corona atau Covid-19.

Ketua Apkrindo Jatim, Tjahjono Haryono mengatakan tren penurunan itu sudah terlihat sejak akhir pekan lalu atau 13-14 Maret dengan rata-rata turun 20 persen - 30 persen baik kafe dan restoran yang ada di dalam mal maupun yang standing alone.

"Dampak itu pasti ada, tapi memang tidak sedrastis prediksi sampai separuhnya atau 50 persen," katanya, Selasa (17/3/2020).

Dia mengatakan akibat Covid-19 ini, beberapa bahan baku industri kafe dan restoran juga sempat terganggu lantaran harganya menjadi semakin mahal. Sebagai contoh bawang bombay, bawang putih dan aneka rempah seperti jahe dan lengkuas.

Menurutnya, harga bombay sempat berada di angka Rp250.000/kg, padahal harga normal bawang bombay adalah Rp60.000 - Rp70.000/kg.

"Tapi sekarang sudah mulai stabil harga bombay di bawah Rp150.000/kg, termasuk rempah-rempah ini sempat kesulitan bukan karena untuk jamu tapi memang rempah sangat erat dengan industri restoran, dan sejauh ini soal bahan baku masih aman," jelasnya.

Meski begitu, lanjut Tjahjono, pengusaha kafe dan restoran juga sudah bisa mengganti bahan baku lain seperti bawang bombay disubtitusi dengan ujung daun bawang karena mempunyai rasa yang hampir sama.

Apkrindo, kata Tjahjono, juga sudah memberi imbauan kepada para anggotanya untuk tetap menjaga kebersihan, melakukan pembersihan rutin di dalam restoran dengan disinfektan baik saat akan operasional dan selesai operasional.

"Kami juga tempatkan hand sanitizer di setiap outlet, di depan di toilet dan di mana saja yang mudah dijangkau pengunjung, termasuk dapur juga harus bersih, pakai masker khususnya di dapur," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

restoran jawa timur Virus Corona
Editor : Miftahul Ulum
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top