29 Orang Orang Dalam Pemantauan Corona di Jatim

Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 11 orang.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  15:11 WIB
29 Orang Orang Dalam Pemantauan Corona di Jatim
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawasan (tengah) saat menggelar konferensi pers tentang update jumlah pasien positid corona, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Gedung Grahadi Surabaya, Rabu (18/3/2020). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut hingga kini jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) mencapai 29 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 11 orang.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan sebelumnya jumlah ODP di Jatim tercatat sebanyak 25 orang, sedangkan jumlah PDP sebelumnya hanya 10 orang.

"ODP kemarin hanya 25 orang, sekarang memjadi 29 orang, yang PDP bertambah 1 orang lagi karena ada warga kita yang baru pulang dari Hong Kong dirujuk ke RS Jiwa Menur. Namun yang perlu masyarakat tahu, bahwa ODP itu bukan positif," jelasnya dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2020).

Dia menjelaskan 11 PDP berada di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan RSUD Saiful Anwar Malang. Sementara pasien yang sudah positif Corona di Jatim sebanyak 8 orang, sebanyak 6 orang di antaranya merupakan dari hasil tes spesimen di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga Surabaya, dan 2 pasien lainnya dari Malang.

Khofifah juga menegaskan bahwa pemerintah tidak menutupi data-data keberadaan ODP kepada masyarakat luas. Menurutnya saat ini petugas terus melakukan tracing terhadap ODP yang sebelumnya kemungkinan sempat melakukan kontak dengan orang yang positif corona.

"Kami tidak merahasiakan, tapi kami tetap tracing secara tertutup. Kalaupun mereka (ODP) diisolasi, saya berharap mereka diisolasi di dalam keluarga mereka masing-masing," katanya.

Dia menjelaskan saat ini sudah ada kekhawatiran masyarakat terhadap ODP yang belum tentu terjangkit virus. Mantan Menteri Sosial ini menegaskam bahwa langkah isolasi bukan berarti alinasi atau keterasingan atau diasingkan.

"Ada kekhawatiran bahwa misalnya ada orang datang ke rumah sakit, dia sakit sesak, itu langsung dianggap sebagai corona. Kita juga perlu jaga psikologisnya," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa timur, Virus Corona

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup