GPEI Jatim Ajak Pengusaha Cari Celah Garap Pasar Global

Pengusaha harus lebih kreatif untuk mencari celah dan peluang dalam menggarap pasar luar negeri di tengah persaingan global yang semakin tinggi.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  20:11 WIB
GPEI Jatim Ajak Pengusaha Cari Celah Garap Pasar Global
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SURABAYA — Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur menilai pengusaha harus lebih kreatif untuk mencari celah dan peluang dalam menggarap pasar luar negeri di tengah persaingan global yang semakin tinggi.

Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan mengatakan potensi pasar global sangat bagus untuk digarap di saat perang dagang AS dan China. Hanya saja, competitiveness masih menjadi tantangan yang harus dikejar.

“China jualan produk ke AS kena pajak tinggi dalam perang dagang ini, seharusnya kita punya peluang untuk memasok barang ke AS, tapi persaingan global juga tidak mudah. Pesaing produk sejenis, misalnya Vietnam, Laos, Thailand semuanya pada berebut pasar,” katanya, Jumat (4/10/2019).

Dia mengatakan Jatim sendiri memiliki 90% produk manufaktur yang tidak kalah, sayangnya 70% bahan baku produksi masih harus impor dan kerap terkendala pada saat impor bahan baku.

“Percepatan pertumbuhan industri bahan baku di sini perlu dilakukan, termasuk izin dan proses impor bahan baku dipermudah, karena proses produksi berkaitan dengan logistik, yang masih kalah dengan negara lain,” jelasnya.

Dia menilai, industri berorientasi pasar ekspor perlu dukungan penuh dari pemerintah melalui berbagai komponen penting seperti energi atau listrik dan gas, upah buruh yang naik setiap tahun, serta upaya peningkatan produktivitas SDM.

Terpisah, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jatim, Nur Cahyudi mengatakan pengusaha saat ini hanya bisa berupaya meningkatkan kualitas produk dan desain yang lebih kekinian sesuai dengan tren pasar.

“Kami coba lebih kekinian dalam memproduksi barang, misalnya dengan membuat tema mebel yang minimalis, atau art design, atau yang klasik sesuai tren pasar saat ini, di samping itu kami harus mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu untuk efisiensi,” katanya.

Nur mengakui kendala produksi mebel yang kerap dialami adalah impor bahan baku tambahan seperti aksesoris mebel yang dikenakan aturan larangan terbatas (lartas). Akibatnya, klien asing banyak yang mengalihkan order ke Vietnam.

“Bahkan sekarang Myanmar dan Malaysia mulai mengejar. Pemerintah itu sudah mendukung industri tetapi memang masih kurang,” imbuhnya.

Berdasarkan data BPS Jatim, nilai ekspor non migas Jatim sepanjang Januari – Agustus 2019 mencapai US$13 miliar. Jumlah tersebut meningkat 2,29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$12,7 miliar. Khusus komoditas kayu dan barang dari kayu turun 9,52% dari US$957 juta menjadi US$865 juta hingga Agustus tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup