Dua Negara Afrika Tertarik Membeli Kereta di PT Inka

Dua negara di benua Afrika, Angola dan Zimbabwe tertarik untuk membeli kereta api dari perusahaan BUMN PT Industri Kereta Api (Inka).
Abdul Jalil
Abdul Jalil - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  09:43 WIB
Dua Negara Afrika Tertarik Membeli Kereta di PT Inka
Delegasi dari negara Angola mencoba kereta KRD produksi PT Inka, Kamis (22/8/2019). - JIBI/Abdul Jalil

Bisnis.com, MADIUN — Dua negara di benua Afrika, Angola dan Zimbabwe tertarik untuk membeli kereta api dari perusahaan BUMN PT Industri Kereta Api (Inka). Delegasi dari dua negara tersebut pun diberi berbagai pilihan kereta penumpang karya anak bangsa.

Bertempat di PT Inka, Kota Madiun, Kamis (22/8/2019) sore, para delegasi negara itu menyusuri ruang produksi kereta api di PT Inka. Mereka juga diperlihatkan show room pembuatan kereta mulai dari pembuatan bogie, perakitan kereta, hingga mencoba kereta yang sudah jadi.

Delegasi dari Angola juga menjajal tiga jenis kereta yang diproduksi PT Inka, yakni LRT, kereta KRD, dan kereta tram yang menggunakan daya baterai. Para delegasi dari Angola itu pun terlihat antusias saat menjajal kereta-kereta karya anak bangsa itu.

"Intinya kedatangan mereka ke sini itu ingin membeli kereta," kata Direktur Utama PT Inka, Budi Noviantoro, di sela-sela menemani delegasi dari Zimbabwe dan Angola.

Budi menuturkan kunjungan dua negara dari benua Afrika itu merupakan tindak lanjut dari forum Dialog Infrastruktur antara Indonesia dengan Afrika di Nusa Dua, Bali, tanggal 20-21 Agustus 2019. Dari forum itu, ada sejumlah negara Afrika yang tertarik untuk membeli kereta api dari Inka. Namun, yang datang hanya delegasi dari Zimbabwe dan Angola.

Para delegasi negara itu kemudian diajak mencoba kereta LRT, kereta KRD, dan kereta Tram. Mereka berkeinginan untuk memesan beberapa jenis kereta dari PT Inka. Tetapi, yang jadi kendala yaitu persoalan pembayaran kereta itu.

"Mereka sih tertarik dengan berbagai kereta. Tapi yang jadi masalah, bagaimana mereka membelinya. Itu yang jadi masalah. Ini mau diskusi itu. Kalau Anda mau beli bagaimana pembayarannya. Jangan sampai mereka beli, tetapi tidak bisa bayar," ujarnya kepada wartawan.

PT Inka kemudian menawarkan opsi pembayaran dengan memberikan konsesi kepada pemerintah Indonesia untuk mengelola tambang yang ada di negaranya. Dari hasil tambang ini, mereka akan membayar kereta api yang dibeli.

Budi menceritakan ada delegasi dari negara Pantai Gading yang meminta Inka untuk membangunkan infrastruktur perkeretaapian dan sekaligus keretanya. Mereka meminta Inka untuk membuatkan kereta tambang.

"Selanjutnya, saya tanyakan itu kandungan tambangnya berapa. Kalau 100 juta ton atau bahkan 200 juta ton. Okelah. Hitungannya kalau ditambang satu tahun 10 juta ton kan bisa 20 tahun. Itu baru bisa. Tapi kalau tambangnya kandungannya hanya 2 juta ton saja. Ya kita lupakan saja. Tidak layak," ujarnya.

Melalui program BUMN bersinergi, kalau ada negara yang memesan kereta api dengan sistem pembayaran seperti itu. Pihaknya akan menggandeng BUMN yang bisa masuk dan mengelola sumber daya yang ditawarkan negara tersebut.

Untuk delegasi Angola, Budi menyampaikan mereka tertarik untuk membeli kereta tambang batu bara. Karena kereta tersebut untuk mengangkut hasil tambang mereka.

"Kalau mau membeli kereta penumpang ya mending saya jual putus saja," kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt inka, madiun

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top