Hadapi Musim Kemarau, Pasokan Air untuk PLTA Niyama Dikurangi

Perum Jasa Tirta mengurangi pasokan air untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Niyama dengan alasan menjaga stok atau cadangan air baku untuk irigasi maupun kebutuhan lain selama kemarau.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  18:12 WIB
Hadapi Musim Kemarau, Pasokan Air untuk PLTA Niyama Dikurangi
Teknisi mengoperasikan mesin turbin di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok, Dago, Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/10/2018). PLTA yang dikelola oleh PT Indonesia Power itu masih beroperasi mengalirkan listrik untuk warga Bandung dan sekitarnya. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, TULUNGAGUNG Perum Jasa Tirta mengurangi pasokan air untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Niyama dengan alasan menjaga stok atau cadangan air baku untuk irigasi maupun kebutuhan lain selama kemarau.

"Ada jatah pasokan yang dikurangi dan keputusan mengenai hal ini sudah kami diskusikan dengan pihak PJB [PT Pembangkitan Jawa Bali] unit PLTA Niyama dengan memberlakukan operasional terjadwal," tutur Kepala Sub Divisi I-3 Jasa ASA Tulungagung Hadi Witoyo, Jumat (23/8/2019).

Jika pada kondisi normal PLTA Niyama bisa beroperasi 24 jam nonstop, kini hanya dijalankan 8 jam per hari. Pembatasan suplai air ke PLTA Niyama itu telah berlaku sejak Juni dan diperkirakan berlanjut hingga kemarau berakhir pada November.

"Saat ini, aliran dari Kali Song nol, sedangkan tiga sungai lain, yakni Kali Putih, Bodeng, dan Kali Wangi tinggal sekitar 1,5 - 2 meter kubik per detik," kata Hadi.    

Kondisi tersebut memaksa Perum Jasa Tirta selaku pengelola bendungan/waduk Wonorejo untuk menerapkan pola pengendalian. Dengan demikian, stok air waduk bisa tetap terjaga pada level yang telah ditetapkan.

"Untuk kondisi kemarau seperti ini outflow kami fokuskan untuk irigasi serta memasok kebutuhan air untuk industri PG Mojopanggung yang saat ini sudah mulai giling, sedangkan PLTA tidak lagi menjadi prioritas," ujarnya.

PLTA berkapasitas 6,3 MW yang berada di bawah kendali PJB tersebut harus mengikuti pola yang diterapkan oleh pihak Jasa Tirta. Pasalnya, apabila tetap beroperasi selama 24 jam penuh, maka akan berdampak terhadap stok air di waduk.

"Dari sebelumnya 24 jam sekarang tinggal 8 jam sehari. Itu biasanya dioperasikan pada saat beban puncak saja, mulai pukul 17.00 WIB," katanya.

Pada musim kemarau ini, jumlah air yang digelontorkan untuk suplai PLTA, irigasi pertanian, dan kebutuhan PG Mojopanggung hanya 3,64 meter kubik/detik dari kondisi normal 10-11 meter kubik/detik.

Namun, pihaknya memastikan dengan strategi pengelolaan yang terencana, saat ini stok air di bendungan Wonorejo masih dalam kondisi aman dan masih mencukupi untuk kebutuhan air hingga November mendatang.    

Volume air saat ini, elevasi ketinggian muka air waduk 176,49 mdpl dari pola yang kami terapkan 174,03 mdpl. Artinya, kami masih surplus sekitar 2 mdpl.

"Sedangkan apabila diukur dari titik terendah operasional waduk yakni 150 mdpl kami masih punya cadangan air sekitar 64 juta meter kubik," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
plta

Sumber : Antara

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top