Tanpa Investasi Masuk, Industri Mebel Cuma Tumbuh 5 Persen

Kinerja industri mebel tahun ini diprediksi hanya mampu tumbuh sekitar 5% - 6% akibat pergerakan pasar domestik maupun ekspor yang belum membaik serta tingkat daya saing investasi yang rendah.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  17:23 WIB
Tanpa Investasi Masuk, Industri Mebel Cuma Tumbuh 5 Persen
Ilustrasi

Bisnis.com, SURABAYA – Kinerja industri mebel tahun ini diprediksi hanya mampu tumbuh sekitar 5% - 6% akibat pergerakan pasar domestik maupun ekspor yang belum membaik serta tingkat daya saing investasi yang rendah.

Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, awalnya pengusaha merencanakan industri bisa tumbuh 8%, tetapi kondisi yang belum membaik, diperkirakan hanya mampu 5% - 6%.

“Industri mebel cukup tertekan akibat banyak faktor, tapi setidaknya masih bisa tumbuh sedikit karena disokong oleh kinerja mebel di Jawa Tengah yang sedang dalam masa keemasannya,” jelasnya seusai seminar mebel di Surabaya, Selasa (20/8/2019).

Dia menjelaskan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja industri ini adalah masalah upah minimum pekerja di Jateng yang tidak setinggi di Jatim sehingga industri di Jatim yang justru merosot.

“Jika ingin industri ini tumbuh seperti di Vietnam yang mampu mencapai 38% dalam 3 tahun, maka pemerintah harus menarik investasi masuk dengan mudah. Tanpa ada relokasi industri, misalnya dari China ke sini, maka pertumbuhan industri kita cuma bisa 4% - 5% an,” katanya.

Sobur mengatakan seharusnya Indonesia punya potensi menjadi negara relokasi dari pabrik-pabrik asal China. Namun, pabrikan China lebih memilih relokasi ke Vietnam yang dinilai lebih ramah investasi serta lebih dekat secara geografis.

“Luas wilayah Indonesia lebih besar dari Vietnam,  jumlah bahan baku kita juga merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Brazil, juga SDM kita banyak. Untuk itu, kita harus punya regulasi yang lebih menarik dari Vietnam sebagai booster,” imbuhnya.

HIMKI pun menyarankan agar pemerintah belajar ke Vietnam, bagaimana membuat regulasi yang ramah investasi sehingga pertumbuhan industri bisa lebih cepat dan signifikan. Hingga saat ini, katanya, masih ada ratusan regulasi yang harus dihadapi sebuah industri mebel di Indonesia.

Sebagai contoh, ada industri asing masuk dan mereka membawa tenaga kerjanya, itupun banyak izin yang menghambat dan dibatasi padahal itu juga untuk meningkatkan devisa kita.

"Pemerintah sendiri memberikan kemudahan impor untuk kemudahan ekspor, tapi baru sebatas raw material, sedangkan SDM juga perlu dipikirkan,” imbuhnya.

Ketua HIMKI Jatim, Nur Cahyudi menambahkan pada semester I/2019, realisasi ekspor mebel di Jatim hanya bisa mencapai US$122 juta, turun 6,5%  jika dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$130 juta.

Begitu juga secara nasional, nilai ekspor mebel tahun lalu hanya bisa mencapai US$1,7 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya US$2 miliar.

“Semester II pergerakannya tidak begitu baik, karena kita juga masih menunggu kebijakan pemerintah baru, termasuk pemerintah daerah supaya daerah ini bisa jadi daya tarik investasi. Yang terjadi industri mebel Jatim berkurang, baik kapasitas produksi maupun pasar,” ujarnya.

Menurut Nur, pemda harus membuat kebijakan yang mendukung investasi, termasuk pengusaha pun harus punya inovasi baru dalam membuat produk yang berkualitas, salah satunya dengan penggantian atau peremajaan mesin

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mebel, jatim

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup