BI Jatim Rintis Program Belajar Penggemukan Sapi bagi Milenial

BI Kantor Perwakilan Jawa Timur tengah merintis program belajar penggemukan sapi yang akan menyasar generasi milenial sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 19 Agustus 2019  |  19:50 WIB
BI Jatim Rintis Program Belajar Penggemukan Sapi bagi Milenial
Ilustrasi peternakan sapi - Antara

Bisnis.com, SURABAYA – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Timur tengah merintis program belajar penggemukan sapi yang akan menyasar generasi milenial sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Kepala BI Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah mengatakan BI meyakini potensi usaha penggemukan sapi sangat besar, mengingat kebutuhan sapi untuk konsumsi dalam negeri masih sangat tinggi.

“Untuk memenuhi kebutuhan Jatim sendiri, termasuk untuk menyuplai wilayah Jakarta saja kita masih kuwalahan (kesulitan), jadi memang pengembangan produksi sapi butuh dorongan semangat,” katanya, Senin (19/8/2019).

Dia mengatakan, program belajar penggemukan sapi ini sudah mulai diterapkan oleh BI Jatim  di sentra-sentra sapi seperti Tuban dan Lamongan.

Difi berharap generasi milenial lainnya ikut mendaftarkan diri ke BI untuk mengikuti program tersebut. Peserta nantinya akan difasilitasi dan dikirim ke sentra-sentra sapi tersebut untuk belajar dan praktik langsung.

“BI sangat ingin mendorong anak muda yang mau belajar penggemukan sapi, karena ini tidak ada sekolah khusus. Tapi kalau sudah ahli dalam penggemukan sapi, kami jamin mereka bisa mandiri hidupnya,” katanya.

Difi menerangkan, investasi untuk menggemukan satu ekor sapi dibutuhkan sekitar Rp20 jutan untuk seekor sapi pedet (anakan), diperkirakan dalam waktu 4 bulan bisa menghasilkan rerata sekitar Rp40 jutaan jika dijual. Bahkan, kotoran sapi pun bisa diolah menjadi pupuk sehingga menghasilkan nilai tambah.

“Kalau anak muda ini sudah ahli, untuk cari modal Rp20 juta rasanya tidaklah sulit. Kami berharap anak muda, mohon maaf, terutama orang-orang yang putus sekolah dan cari kerja, kita tawarkan vokasional atau keterampilan ini, mereka bisa langsung magang,” jelasnya.

Difi mengakui minat belajar peternakan atau perkebunan/pertanian di kalangan anak muda memang masih belum tinggi. Padahal, menurutnya, jika anak muda mau belajar tentang agribisnis ini akan memiliki masa depan yang bagus.

“Memang yang paling sulit adalah disiplin kita dalam merawat ternak, karena untuk merawat sapi butuh keterampilan dalam membangun hubungan dengan hewan ternaknya. Misalnya sapi-sapi butuh sering dimandikan agar nafsu makannya meningkat, dan sebagainya,” imbuhnya.

Berdasarkan data Dinas Peternakan Jatim, jumlah populasi sapi potong di Jatim hingga saat ini mencapai sekitar 4,6 juta ekor atau menyumbang 27% dari populasi nasional. Sedangkan sapi perah (susu) sekitar 280.364 ekor atau menyumbang 51% dari total populasi nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bi jatim, penggemukan sapi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top