Kembangkan Florikultura, Petrokimia Gresik Perbesar Pasar Pupuk Non Subsidi

PT Petrokimia Gresik (PG) berupaya meningkatkan segmen pasar pupuk non subsidi salah satunya dengan mengembangkan produk pupuk khusus tanaman florikultura atau bunga yang ditargetkan bisa diujicobakan pada awal 2020.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  15:05 WIB
Kembangkan Florikultura, Petrokimia Gresik Perbesar Pasar Pupuk Non Subsidi
Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi (kedua kanan) dan Direktur Teknik dan Pengembangan PG Arif Fauzan (kanan) saat memanen buah melon produksi Kebun Percobaan PG dalam ajang Petro Agrifood Expo 2019 di Gresik, Jumat (12/7/2019) - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, GRESIK - PT Petrokimia Gresik (PG) berupaya meningkatkan segmen pasar pupuk non subsidi salah satunya dengan mengembangkan produk pupuk khusus tanaman florikultura atau bunga yang ditargetkan bisa diujicobakan pada awal 2020.

Direktur Utama PG, Rahmad Pribadi mengatakan saat ini pupuk khusus florikultura ini dalam tahap penelitian dan uji coba di lahan sendiri sebelum melakukan pre-marketing melalui program demplot di lahan-lahan perkebunan bunga.

"Research yang kami buat bukan cuma untuk perusahaan tetapi juga untuk menjaga ketahanan pangan dan perekonomian nasional," katanya di sela-sela Pameran Petro Agrifood Expo (PAE) 2019, Jumat (12/7/2019).

Menurutnya, potensi pasar florikultura di Indonesia cukup besar, apalagi petani bunga melati selama ini sudah banyak melakukan ekspor melati ke berbagai negara.

"Kami melihat ada ceruk pasar yang besar untuk pupuk florikultura ini, dengan meningkatkan produktivitas tanaman bunga melati dan bunga-bunga lainnya, diharapkan bisa sekaligus meningkatkan devisa negara melalui ekspor bunga tersebut," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Pemasaran PG, Meinu Sadariyo menambahkan pengembangan pupuk florikultura ini diklaim baru pertama dikembangkan di Indonesia. Selama ini kebutuhan pupuk florikultura disuplai oleh produk impor.

"Kita baru sadar diri kalau florikultura ini kurang diperhatikan pasarnya. Selama ini penghobi tanaman bunga memakai pupuk biasa atau pupuk khusus flori tapi impor dengan kemasan kecil. Nah kali ini kami mau masuk pasar pupuk florikultura untuk skala bisnis," jelasnya.

Selain mengembangkan florikultura, lanjut Meinu, PG juga meluncurkan produk baru pupuk NPK Petro Nitrat 12-11-20 yang menyasar segmen tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Produk ini pun dikomersialkan dengan kemasan 1 kg, 5 kg hingga 20 kg agar dapat menyasar pasar ritel.

Meinu menambahkan, dengan mengembangkan pupuk florikultura dan hortikultura ini diharapkan dapat penjualannya ikut mendongkrak pasar pupuk non subsidi. Apalagi, selama ini 80% konsumsi pupuk PG adalah pasar subsidi dari pemerintah, sedangkan 20% merupakan pasar pupuk non subsidi.

"Kami harus belajar memasarkan pupuk non subsidi ini supaya nanti kalau ada pengalihan subsidi pemerintah, maka kita tidak kehilangan pasar karena sudah menguasai pasar non subsidi yang market sharenya saat ini baru 10%-15%," ujarnya.

Adapun PG mencatatkan penjualan pupuk non subsidi pada tahun lalu mencapai 130.000 ton. Jumlah tersebut meningkat 15%-20% jika dibandingkan capaian 2017. Tahun ini pun, penjualan pupum non subsidi PG ditarget bisa mencapai 400.000 ton.

Dari total pupuk non subsidi tersebut, sebanyak 50% dipasarkan di domestik dan 50% pasar ekspor. Sementara kontribusi untuk produk pupuk hortikultura sebanyak 30% dari total produksi yang dipasarkan di domestik, dan 70% merupakan pupuk untuk tanaman pangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
petrokimia gresik, florikultura

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup