Seniman Topeng Malang Dorong Budaya Panji Diakui Unesco

Seniman topeng Malang mendorong pengakuan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atas budaya Panji sebagai warisan sejarah dunia.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  13:23 WIB
Seniman Topeng Malang Dorong Budaya Panji Diakui Unesco
Tari Topeng yang dilakukan seniman Malang di CFD Malang, Minggu (7/7/2019). - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Seniman topeng Malang mendorong pengakuan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atas budaya Panji sebagai warisan sejarah dunia dengan melakukan flashmob tari topeng.

Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang, Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, mengungkapkan flashmob tari Topeng Bapang, Grebeg Jowo, dan Grebeg Sabrang di Car Free Day Jalan Ijen Kota Malang, Minggu (7/7/2019) itu diikuti oleh puluhan penari dari berbagai sanggar di Kota dan Kabupaten Malang.

“Tujuan utama dari acara tersebut untuk mendorong Budaya Panji agar diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebagai warisan sejarah dunia,” katanya di Malang, Senin (8/7/2019).

Cerita Panji ini merupakan cerita luhur dari zaman Kerajaan Jenggolo, berkembang menjadi Kerajaan Kanjuruhan, lalu Singosari dan Mojopahit, bahkan berkembang sampai ke Thailand dan Kamboja.

Menurut dia, tari-tarian tersebut merupakan tarian khas epos panji. Budaya Panji merupakan salah satu budaya lokal yang harus terus dilestarikan.

Pengusulan Cerita Panji untuk dijadikan warisan dunia oleh UNESCO digagas oleh Wardiman Djojonegoro, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Soeharto.

Sejak 2016 kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dengan mengadakan Festival Panji Nusantara pada 2019, lalu, di Pasuruan, Kediri, Malang, Tulungagung dan Blitar. Selain itu juga diadakan Festival Panji tingkat Internasional tiga tahun sekali sejak 2018 lalu.

“Kami dari komunitas yang tidak terlibat dalam acara-acara besar itu, sengaja mengadakan flashmob ini, dengan cara ini (flashmob) kita juga mengenalkan kepada kaum milenial agar lebih mudah dicerna, cerita Panji ini,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, flashmob di CFD ini bukan merupakan kali pertama namun sebelumnya telah dilakukan pada 12 sanggar kantong kampung topeng di Kabupaten Malang bahwa Penati Kampung Budaya Poliwijen menari bersama sama dengana para penari dari masing masing sanggar.

Sebayak 12 kantong kampung topeng tersebut a.l terdapat di Jabung, Kemantren, Gedok, Duwet, Glagahdowo, Tulus Besar, Gubuk Klakah, Kedung Monggo, Lowok Permanu, Jambuwer, Kromengan, Piji Ombo, Jatiguwi dan Senggreng.

“Kampung Budaya Polowijen bekerja sama dengan 12 kantong kampung topeng tersebut untuk membantu mengumpulkan 1000 naskah sehingga budaya Panji bisa diakui oleh Unesco,” tandas Ki Demang

Untuk menggelar flashmob tersebut tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar tiga hari sebelum perhelatan. Mulanya, kami sebar informasi melalui grup facebook dan whatsapp, ternyata banyak yang antusias dan langsung daftar.

Ke depan, pihaknya akan melakukan kegiatan serupa agar budaya khas Malangan bisa lebih banyak dikenal masyarakat. "Saya ingin melakukan kegiatan serupa. Misalnya menari di kampung-kampung tematik, candi atau situs cagar budaya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
malang

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top