Tulungagung Perlu Rp550 Miliar Kembangkan Wilis

Dana sebesar itu ditanggung renteng antara pemerintah lewat APBN 50%, APBD Pemprov Jatim 30%, dan APBD Pemkab Tulungagung 20%.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  08:37 WIB
Tulungagung Perlu Rp550 Miliar Kembangkan Wilis
Para penari menyanjikan tarian tradisional terkait dengan aktivitas proses pengolahan kopi pada Coffe Camps di Tulungagung, Senin (25/2/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Keterangan foto: Para penari menyanjikan tarian tradisional terkait dengan aktivitas proses pengolahan kopi pada Coffe Camps di Tulungagung, Senin (25/2/2019). Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, TULUNGAGUNG — Pemkab Tulungagung membutuhkan dana Rp550 miliar untuk mengembangkan Gunung Wilis sebagai bagian program pengembangan pariwisata Tunggal Rogo Mandiri, yakni Tulungagung, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, dan Kediri.

Plt Bupati Tulungagung M. Birowo mengatakan pengembangan pariwisata di kawasan tersebut ditargetkan dapat rampung pada 2021-2022.

“Kebutuhan dana untuk Tulungagung dalam pengembangan kawasan Wilis di daerah tersebut mencapai Rp550 miliar,” katanya di sela-sela Coffee Camps Bank Indonesia Kediri di Tulungagung, Senin (25/2/2019).

Dana sebesar itu, kata dia, ditanggung renteng antara pemerintah lewat APBN 50%, APBD Pemprov Jatim 30%, dan APBD Pemkab Tulungagung 20%.

Konsep pariwisata Tunggal Rogo Mandiri, kata dia, ingin menjadikan kawasan Wilis dikenal sebagai destinasi yang kuat seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Oleh karena itulah, perlu dukungan infrastruktur yang memadai untuk mengembangkan kawasan Wilis sebagai detinasi wisata. Pembangunan infrastruktur di wilayah Kab. Tulungagung baru mencapai 15%.

Salah satu objek wisata yang menjadi bagian dari pengembangan Ecowisata dan Bumi Perkemahan Jurang Senggani. Di hutan pinus tersebut ada air terjun dan berbagai fasilitas seperti penanaman kopi Arabica petani Sendang binaan BI, juga tempat bermain dan medan off road.

“Yang menggembirakan, tengah dikembangkan tanaman kopi Arabica komasti sebagai pengganti tanaman teh yang dulu sangat terkenal,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR RI Eva Kusuma Sundari mengapreasi pengembangan tanaman di Sendang oleh BI. Lewat penanaman kopi, maka BI menghidupkan tanaman yang dulu pernah di sana dan hampir punah, yakni tanaman kopi Arabica Columbia Brazil (Cobra).

Kepala Perwakilan BI Kediri Djoko Raharto mengatakan pengembangan tanaman kopi di Tulungagung dilakukan secara terintegrasi, yakni pengembangan pertanian dan peternakan serta pariwisata. Pengembangan pariwisata dengan menjual kopi dan berbagai aspeknya dapat memperkuat brand dari tanaman keras di daerah tersebut.

“Karena itulah, kami berharap Pemkab Tulungagung dapat mendaftarkan pertanian kopi di Sendang untuk indikasi geografis sehingga kekhasan dari kopi di sana dapat diakui dunia, seperti halnya kopi gayo, Ijen, dan lainnya,” ucapnya.

BI Kediri juga membantu membangun musala di objek wisata tersebut serta alat komunikasi untuk Pokdarwis yang mengelola Jurang Senggani.

Plt Bupati berjanji, Pemkab Tulungagung akan mendukung pengembangan kawasan tersebut dengan melengkapi fasilitas objek wisata di Jurang Senggani.

Kepala Perwakilan BI Jatim Difi A. Johansyah mengatakan pengembangan tanaman kopi spesial di Tulungagung sudah tepat karena kebutuhan petani di Indonesia, bahkan dunia terus meningkat.

Jika tidak ada upaya peningkatan produksi secara signifikan, maka dikhawatirkan Indonesia menjadi pengimpor kopi karena tingginya konsumsi kopi di dalam negeri maupun untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tulungagung

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup