Pariwisata Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru Malang

Sektor pariwisata dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja sektor riil sehingga berpotensi untuk diprioritaskan pengembangannya.
Choirul Anam | 14 Januari 2019 18:05 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (kiri) bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang Azka Subhan Aminurridho di sela-sela Sertijab Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Senin (14/1/2019). Bisnis - Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG—Sektor pariwisata dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja sektor riil sehingga berpotensi untuk diprioritaskan pengembangannya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng mengatakan potensi lainnya mendorong investasi yang dapat menopang tersedianya infrastruktur pendukung yang dapat meningkatkan nilai tambah produk pada sektor utama.

“Malang Raya, yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kab. Malang  ke depan diharapkan dapat menjadi hub untuk perdagangan di wilayah Kawasan Tengah Selatan (Katesa) Jawa Timur sehingga mampu menjaga kestabilan harga kebutuhan di kawasan,” katanya di sela-sela Sertijab Kepala Kantor Perwakilan BI Malang di Malang, Senin (14/1/2019).

Tantangan bagi perekonomian di wilayah kerja Bank Indonesia Malang, yakni  keterbatasan kemampuan industri untuk menyerap tenaga kerja sebagai dampak pelemahan ekonomi global.

Selanjutnya, concern terhadap kinerja industri dan pertanian tidak bisa dipisahkan dari perkembangan infrastruktur yang ada serta masalah tata niaga komoditas bahan pangan yang masih belum efisien.

Pencapaian laju pertumbuhan ekonomi nasional, dia nilai, tentunya tidak bisa dipisahkan dari dinamika pertumbuhan ekonomi di daerah. Dalam konteks wilayah kerja Bank Indonesia Malang yang meliputi Kota dan Kabupaten Probolinggo, Kota dan Kabupaten Pasuruan, Kota dan Kabupaten Malang, dan Kota Batu menunjukkan kinerja pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Malang yang tumbuh 5,57% pada 2017, lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang tercatat tumbuh 5,26% dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,19%. Sementara itu, pada 2018 pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Malang diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,5 – 5,9%.

 Struktur perekonomian daerah di wilayah kerja Bank Indonesia Malang terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, dan  konstruksi.

Beberapa kabupaten di wilayah kerja Bank Indonesia Malang merupakan basis industri pengolahan. Salah satunya adalah Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) yang berlokasi di Kabupaten Pasuruan yang memiliki industri utama berupa industri pengolahan tembakau, logam, furniture, alas kaki, serta tekstil dan produk tekstil.

Ada pula agro-industri di Kabupaten Malang yang meliputi pengolahan industri hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan. Sementara itu, di Kabupaten Probolinggo terdapat infrastruktur vital untuk mendukung distribusi industri pengolahan yaitu terminal pelabuhan yang mampu menjadi pendukung bagi pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya dan menjadi hub lalu lintas laut untuk daerah industri di sekitarnya.

 “Kami memandang hal ini sebagai potensi besar dan perlu terus dikembangkan guna menopang kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan ke depan,” ucapnya.

Selain itu, pemberdayaan sektor riil dan keuangan inklusif perlu dilanjutkan dengan penekanan pada klaster pangan dan pengembangan UMKM serta perluasan akses keuangan bagi masyarakat. Pengembangan klaster pangan yang dilakukan selama ini merupakan bagian dari kebijakan Bank Indonesia dalam menjalankan mandat pengendalian inflasi.

 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perlunya meningkatkan peran di dalam pengembangan ekonomi keuangan syariah antara lain melalui penguatan halal value chain melalui pemberdayaan ekonomi pesantren yang diintegrasikan denga pengembangan UMKM di Bank Indonesia

Dari sisi inflasi, ada 2 kota yang dihitung IHK-nya oleh BPS yaitu Kota Malang dan Kota Probolinggo. Tahun 2018 inflasi Kota Malang tercatat 2,98% (yoy) dan Kota Probolinggo mengalami inflasi 2,18% (yoy), lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang mencapai 3,13% (yoy).

Realisasi inflasi yang rendah dan terkendali tersebut tidak lepas dari peran pemerintah daerah dan sinergi berbagai pihak yang bernaung dalam forum TPID. “Tanpa sinergi, kami rasa sulit untuk melakukan pengendalian inflasi secara optimal,” katanya.

Untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil perlu dilakukan berbagai langkah seperti peningkatan produksi untuk menjaga pasokan, perbaikan rantai distribusi, dan peningkatan kerja sama antar daerah untuk memastikan volatilitas harga tidak terlalu tinggi.

Risiko tekanan inflasi inti di tahun ini a.l  karena adanya pelaksanaan Pilpres dan Pileg 2019. Tekanan inflasi administered prices diperkirakan rendah akibat minimalnya penyesuaian harga dari Pemerintah. Sementara tekanan inflasi volatile foods akan sejalan dengan pola seasonal-nya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan ada enam prioritas yang akan digarap kantor tersebut, yakni pengebangan pariwisata, industri pengolahan menuju impor serta memproduksi barang substitusi impor, pengembangan UMKM sehingga produknya berhasil diekspor,  mendorong digitalisasi di berbagai sektor pelayanan publik, serta pengembangan ekonomi syariah bekerja sama dengan pesantren.

Tag : pariwisata, malang
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top