Kemenhub akan Kembangkan 2 Penelitian Keselamatan Penerbangan

Litbang Kemenhub menargetkan dua prototipe hasil penelitian keselamatan penerbangan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bisa dikembangkan pada tahun depan.
Peni Widarti | 06 Desember 2018 00:54 WIB
Ilustrasi penerbangan

Bisnis.com, SURABAYA – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Perhubungan menargetkan dua prototipe hasil penelitian keselamatan penerbangan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bisa dikembangkan pada tahun depan.
 
Kepala Badan Litbang Kemenhub, Sugihardjo mengatakan kedua prototype tersebut yakni Wind Shear Detector dan Standing Water Detector yang diyakini mampu menjadi solusi atas terjadinya kecelakaan pesawat udara, khususnya saat mendarat (landing) dan lepas landas (take off).  
 
“Saat ini belum ada satu pun bandara di Indonesia menggunakan alat seperti ini, tapi penelitian ini telah diujicoba di Bandara Trunojoyo Sumenep Madura dan ditargetkan tahun depan sudah bisa dikembangkan lebih lanjut hingga mulai sertifikasi dan produksinya,” ujarnya dalam rilis, Rabu (5/12/2018).
 
Menurut Sugihardjo, jika kedua alat ini sudah dikembangkan dan diproduksi, maka Indonesia sudah tidak perlu lagi menggunakan produk buatan luar negeri.
 
Kepala Peneliti Bidang Instrumentasi ITS, Melania Suweni Muntini menjelaskan kedua alat ini sangat penting untuk mengantisipasi potensi kecelakaan dengan penyebab wind shear (angin samping) dan standing water (genangan air) di landasan pacu.
 
“Berdasarkan data dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), salah satu dari tiga penyebab utama terjadinya kecelakaan maupun insiden penerbangan di antaranya melibatkan faktor angin dan hujan,” ujar
dosen yang juga Kepala Unit Protokoler, Promosi, dan Humas ITS ini. 
 
Melania menerangkan, faktor angin salah satunya berupa wind shear, sedangkan faktor hujan dapat menimbulkan genangan air di landasan pacu.
 
Ketika terjadi wind shear dan ada genangan air, petugas Air Traffic Controller (ATC) bandara dapat menginformasikan kepada pilot tentang kondisi di landasan pacu. Sehingga nantinya, pilot dapat memutuskan lebih dini, apakah akan terus terbang atau menghindar.
 
“Ada ketentuan bahwa tinggi genangan di landasan pacu bandara tidak boleh lebih dari 3 mm karena bisa menyebabkan pesawat tergelincir saat mendarat,” imbuhnya

Tag : kemenhub, keselamatan penerbangan
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top