Enam Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Bertransformasi pada 2018

Enam Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) telah bertransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dengan diberikan izin Kemenristek Dikti untuk menerima mahasiswa di 2018.
Choirul Anam | 28 Agustus 2018 05:49 WIB
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita (dua dari kanan) bersama Ketua STPP Malang Surachman Suwardi (paling kanan) bersama civitas akademika STPP Malang pada Wisuda Mahasiswa STPP Malang Tahun Akademik 2017/2018 di Malang, Senin (27/8/2018). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Enam Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) telah bertransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dengan diberikan izin Kemenristek Dikti untuk menerima mahasiswa di 2018.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan enam Polbangtan itu telah menerima 1.402 orang mahasiswa baru di 2018. Polbangtan dimaksud, yakni Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa, dan Polbangtan Manokwari.

“Tahun 2019, Kementerian Pertanian diharapkan memiliki 10 Politeknik Pembangunan Pertanian dengan berbagai program studi yang mendukung program-program Kementerian Pertanian,” katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, pada Wisuda Mahasiswa STPP Malang Tahun Akademik 2017/2018 di Malang, Senin (27/8/2018).

Empat politkenik yang sedang berproses, yakni Polbangtan Kupang, Polbangtan Sumbawa, Polbangtan Banjarbaru, dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia di Serpong Banten.

Mentan berharap, lulusan dari politeknik tersebut nantinya tidak hanya siap mengisi peluang kerja di dunia industri dan instansi pemerintah, namun juga siap menjadi wirausahaan yang dapat menciptakan lapangan kerja.

PenumbuhanWirausaha Muda Pertanian (PWMP) Kementerian Pertanian, kata dia, merupakan program penumbuhan wirusahawan di bidang pertanian untuk siswa SMK Pembangunan Pertanian, mahasiswa STPP, dan alumni perguruan tinggi mitra Kementan yang memiliki fakultas pertanian dan/atau peternakan.

Program ini dilakukan secara berkelompok dan didampingi selama tiga tahun untuk menjadi wirausahawan yang mandiri dan tangguh.

Ketua STPP Malang Surachman Suwardi mengatakan sejak 2018, STPP Malang telah bertransformasi kelembagaan menjadi Polbangtan Malang. Hal itu dilakukan karena tuntutan pembangunan pertanian di Indonesia yang semakin kompleks.

Tuntutan pembangunan pertanian ke depan, menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan pertanian, tidak terkecuali STPP Malang. Persaingan antarnegara di masa yang akan datang bukan senajata, melainkan bagaimana sebuah negara bisa menyediakan pangan bagi penduduknya secara mandiri.

Lulusan STPP Malang, dia meyakinkan, diminati kalangan industri. Ada tujuh mahasiswa yang telah diterima bekerja di perusahaan sebelum mereka lulus, yakni empat mahasiswa diterima di PT Astra Argo Lestari, dan tiga mahasiswa di PT Bimitama Gunajaya.

Mentan mengingatkan, peran penyuluh pertanian diharapkan juga turut andil dalam mendukung program regenerasi petani karena rerata setriap tahun Indonesia kehilangan 2% jumlah rumah tangga petani yang berpindah profesi.

Tambahan lagi, dari total petani, 61% berusia di atas 45 tahun. Generasi muda akan tertarik kepada sektor pertanian apabila ada sentuhan teknologi sehingga tidak terkesan terbelakang dan bahkan primitif, melainkan memberikan keuntungan yang nyata dengan melakukan diversifikasi dan nilai tambah.

Juga perlu membuat jejaring usaha sehingga terjamin sarana produksi dan pasar, serta berwawasan lingkungan sehingga berkelanjutan.

“Itulah sebabnya mengapa penyuluh pertanian diharapkan berdomisili di daerah setempat sehingga akan familier dengan budaya setempat, paham dengan kondisi alam, dan agroklimat serta tahu ke mana mengembangkan jejering kerja sama yang potensial,” ungkapnya.

Tag : pertanian, penyuluh
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top