Pasar Apartemen di Surabaya Diprediksi Stagnan

Pasar apartemen di Surabaya diperkirakan masih stagnan setidaknya sampai akhir tahun mengingat adanya kenaikan suku bunga dan ketatnya persaingan apartemen di pasar primer.
Peni Widarti | 23 Agustus 2018 10:04 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan apartemen. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, SURABAYA – Pasar apartemen di Surabaya diperkirakan masih stagnan setidaknya sampai akhir tahun mengingat adanya kenaikan suku bunga dan ketatnya persaingan apartemen di pasar primer.

Berdasarkan survey Colliers International yang dikutip Rabu (22/8/2018), tercatat bahwa penyerapan apartemen strata tittle di Surabaya pada semester I/2017 yakni sekitar 67,4%. Sedangkan pada periode yang sama tahun ini juga masih berada di angka yang sama yakni 67,2%.

“Secara umum tingkat serapan belum beranjak dari tahun sebelumnya. Ini karena investor masih wait and see untuk membeli karena masih menunggu membaiknya ekonomi dan implentasi dari stimulus yang dikeluarkan BI bisa memberikan dampak positif,” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International.

Ferry mengatakan isu daya beli dan faktor sentiment negatif masih menghantui pasar apartmen hingga semester I/2018. Sementara itu, apartemen kelas menengah ke bawah mencatat kinerja yang relatife lebih baik dibandingkan kelas menengah atas dan kelas atas.

“Tingkat permintaan unit apartemen kelas menengah bawah masih tinggi karena harganya yang masih terjangkau di bawah Rp1,5 miliar,” jelasnya.

Dia menambahkan kebijakan relaksasi LTV yang dilakukan BI diharapkan akan berdampak postif terhadap sektor properti meski tidak signifikan. Menurut survei REI, isu mengenai pajak, masalah perizinan, dan tingkat suku bunga menjadi paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pasar properti secara umum.

Adapun, Colliers mencatat pasokan baru apartemen di Surabaya pada tahun ini akan mencapai 6.422 unit. Secara kumulatif sampai 2021 akan ada pasokan baru hingga mencapai 32.144 unit.

Belum banyaknya permintaan pun membuat harga jual rata-rata apartemen di Surabaya nyaris tidak bergerak, hampir sama dengan yang terjadi di Jakarta. Tercatat pada 2017 harga jual strata tittle sekitar Rp20,6 juta/m2, hingga semester I/2018 harga jualnya masih sekitar Rp21 juta/m2.

Sedangkan pasar apartemen sewa di Surabaya mengalami penurunan okupansi, dari 58% pada 2017 menjadi 52% pada semester I/2018. Tarif sewa rata-rata apartemen Surabaya pada tahun lalu juga tercatat Rp260.000/m2/bulan, dan sampai saat ini masih sama.

"Tingkat hunian apartemen servis ini kian turun akibat sengitnya persaingan dengan hotel dan apartemen strata. Ini juga yang membuat harga sewa tak mampu bergerak naik," imbuh Ferry.

Adapun pengembang yang paling aktif di Surabaya berdasarkan jumlah unit yakni Puncak Group berkontribusi 31%, Pakuwon 27%, Gunawangsa 10%, PP Properti 4%, Ciputra Group 3%, dan lainnya 25%.

Berdasarkan jumlah proyek di Surabaya, dikontribusi oleh Puncak Group 11%, Pakuwoon 23%, Gunawangsa 8%, PP 6%, Ciputra Group 9%, dan lainnya 43%.

Proyek apartemen yang akan hadir sampai 2021 di Surabaya di antaranya ada di wilayah barat seperti Vertu Apartement, Graha Golf Apartement, Darmo Hill Apartement, Tierra Surabaya, dan Westown View.

Di sisi selatan ada The Trans Icon Apartement, dan Bess Mansion. Di sisi timur ada East Coast Mansion, Grand Dharmahusada Lagoon, dan Galaxy Residence. Secara distribusi apartemen di wilayah selatan sebanyak 5%, di timur 48%, di pusat 7%, dan di barat 40%.

Tag : apartemen
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top