Telur Ayam Ras Picu Inflasi Jatim 0,07%

<p><span style="font-family: -webkit-standard; font-size: medium;">Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,07% pada Juli 2018, dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas seperri telur ayam ras, bensin, dan cabai rawit.</span></p>
Peni Widarti | 01 Agustus 2018 16:05 WIB
Telur ayam - cookies/in/motion.com

Bisnis.com, SURABAYA -- Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,07% pada Juli 2018, dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas seperri telur ayam ras, bensin, dan cabai rawit.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono mengatakan kenaikan harga telur ayam ras pada bulan lalu termasuk tidak lazim mengingat masa puasa dan Lebaran yang biasanya mengerek harga telah berlalu.

"Masih tingginya permintaan telur ayam ras yang tidak diimbangi ketersediaan telur dari produsen ini menyebabkan harga di pasaran menjadi naik," terangnya saat konferensi pers, Rabu (1/8/2018).

Teguh menjelaskan pekan pertama hingga pekan ketiga Juni 2018, harga telur ayam ras mencapai Rp22.300 per kilogram (kg). Namun, menginjak awal Juli 2018, harga meningkat menjadi Rp24.000-Rp26.000 per kg.

Pada pekan terakhir Juli 2018, harga kembali turun menjadi Rp23.700 per kg.

"Kenaikan harga telur ini terjadi di hampir semua kabupaten/kota di Jatim," imbuhnya.

Untuk komoditas bensin, ada kenaikan harga pada bensin non subsidi seperti Pertamax Series dan Dex Series per 1 Juli 2018.

Inflasi juga didorong oleh kenaikan harga cabai rawit yang disebabkan oleh faktor cuaca yang menggangu pasokan cabai. Selain itu, juga memang belum saatnya musim panen.

Meski demikian, BPS menyebutkan inflasi Juli 2018 tergolong inflasi terendah dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

Pada Juli 2015, inflasi tercatat sebesar 0,51%. Kemudian, pada 2016 sebesar 0,76% dan pada 2017 sebesar 0,15%.

"Begitu juga kalau dilihat dari tahun kalender sampai Juli 2018, inflasi kita cukup terkendali dibandingkan tahun lalu. Hal ini menunjukkan kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kita lumayan karena harga-harga bahan pokok relatif stabil," papar Teguh.

Adapun sejumlah komoditas yang ikut andil dalam menekan laju inflasi Jatim atau yang mengalami deflasi yakni bawang merah, angkutan antar kota, tarif kereta api, serta daging sapi kecuali di Malang dan Probolinggo.

"Bawang merah ikut andil menekan laju inflasi karena adanya panen raya di beberapa sentra penghasil bawang merah," ungkapnya.

Jika dilihat inflasi di seluruh ibu kota provinsi di Pulau Jawa, Surabaya pun menjadi yang terendah dengan hanya 0,03%. Inflasi tertinggi terjadi di Yogyakarta dan Serang dengan 0,56%, Bandung 0,17%, serta Semarang 0,11%.

Adapun DKI Jakarta mencatatkan inflasi 0,26%.

Tag : Inflasi, jawa timur
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top