Surabaya Optimalkan Warung untuk Tahan Laju Inflasi Akhir Tahun

Pemerintah Kota Surabaya mengoptimalkan peran Warung TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) di 5 pasar tradisional sebagai salah satu upaya menahan inflasi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (kanan) dan Advisor Bank Indonesia - Jatim Muslimin Anwar (kedua kanan) meninjau salah satu Warung TPID Kota Surabaya./Dok. Pemkot Surabaya
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (kanan) dan Advisor Bank Indonesia - Jatim Muslimin Anwar (kedua kanan) meninjau salah satu Warung TPID Kota Surabaya./Dok. Pemkot Surabaya

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya akan mengoptimalkan peran Warung TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) di 5 pasar trandisional sebagai salah satu upaya untuk menekan laju inflasi tahun ini.

Kepala Bidang (Kabid) Distribusi Perdagangan, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya, Devie Afrianto mengatakan, Warung TPID dinilai cukup andal dalam menjaga kestabilan bahan pokok di Surabaya, terutama ketersediaan komoditas beras. 

“Warung TPID dikonsep untuk menstabilkan harga di pasar, dan juga dengan kualitas dan ketersediaannya diharapkan dapat selalu terjaga,” katanya, Rabu (6/12/2023).

Adapun 5 Warung TPID telah dibuka di Surabaya tersebut di antaranya adalah Pasar Wonokromo, Pasar Pucang Anom, Pasar Genteng Baru dan Pasar Tambahrejo. Keempat pasar tradisional tersebut dikelola oleh PD Pasar Surya, sedangkan satu warung lainnya berada di pasar yang dikelola swasta.

Devie mengatakan, hingga saat ini tren transaksi penjualan beras di Warung TPID sekitar 10 ton. Seperti di Pasar Genteng bisa mencapai 18 ton, dan tertinggi transaksinya di Pasar Pucang Anom mencapai 51 ton. HET beras yang ditawarkan di Warung TPID Surabaya ini sekitar Rp10.900/kg.

“Kami mengimbau agar masyarakat membeli komoditas bahan pokok dengan pola konsumsi dan jumlah yang wajar,” katanya.

Berdasarkan data BPS Jatim, inflasi Jatim pada November 2023 yakni 0,31% (month to month/mtm), atau mengalami inflasi sebesar 3,24% (year on year/yoy) atau dibandingkan November 2022, dan atau mengalami inflasi 2,63% (year to date/ytd) pada November 2023 dibandingkan Desember 2022. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep 0,87% dan terendah terjadi di Kota Surabaya 0,26%.

Ada 10 komoditas penyumbang inflasi pada November 2023 di antaranya cabai rawit yang harganya naik 68,02%, cabai merah naik 46,69%, angkutan udara 3,20%, emas perhiasan 3,42%, bawang merah 15,97%, telur ayam 3,15%, gula pasir 5,55%, beras 0,21%,  ikan mujair 4,42%, dan apel 3,4%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper