Menangani Down Syndrome, Ini Saran Akademisi

Beberapa perilaku anak down syndrome memang terlihat lebih hiperaktif.
Ilustrasi./down syndrome association
Ilustrasi./down syndrome association

Bisnis.com, MALANG — Penyakit down syndrome memiliki beberapa ciri fisik dan kelainan yang penanganannya perlu secara holistik dan dianjurkan agar ibu hamil untuk melakukan screening agar tidak ada keterlambatan dalam penanganan.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Annisa' Hasanah, mengatakan down syndrome adalah suatu penyakit yang terkait dengan kelainan kromosom. Kromosom yang ini diberi nama Kromosom nomor 21. Down syndrome juga disebut sebagai penyakit wajah sedunia, sebab wajahnya yang mirip-mirip.

"Beberapa perilaku anak down syndrome memang terlihat lebih hiperaktif," ujarnya, Selasa (7/11/2023).

Selain itu, kata dia, terdapat beberapa ciri fisik anak down syndrome yang dapat kita lihat, yaitu memiliki telinga yang lebih kecil dan lebih rendah, bentuk kepala belakang lebih rata, jarak antar mata yang jauh, mata terbelalak dan hidung yang pesek.

“Mulut yang terlihat lebih kecil, lidah lebih tebal dan pendek, leher lebar dan pendek, kaki tangan dan jari yang pendek, serta jarak antara jempol dengan jari kaki lainnya yang jauh juga merupakan ciri fisik lainnya. Selain itu, anak down syndrome hanya memiliki satu garis pada telapak tangannya, hal ini sebut sebagai simian crease,” ujarnya.

Annisa, panggilan akrabnya menambahkan, pengidap down syndrome biasanya memiliki kelainan atau gangguan seperti gangguan pendengaran, gangguan jantung bocor, penyakit jantung bawaan, gangguan pernafasan, hingga gangguan pencernaan. Untuk mengetahui berbagai hal tersebut, harus dilakukan screening pada anak.

“Penyakit ini tidak dapat disembuhkan sebab terkait dengan kromosom atau genetik. Namun, gejala-gejala yang ada bisa ditangani dengan lebih cepat jika kita mengetahuinya lebih awal,” ucapnya.

Anak down syndrome mungkin memang akan mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berkembang. Namun, bukan berarti mereka tidak pintar. Annisa mengatakan bahwa mereka juga bisa diajari bermain musik, belajar seperti anak-anak pada umumnya.

“Jika ditangani dan di terapi dengan tepat, maka kemampuannya dapat dioptimalkan,” ujarnya,.

Menurut dia, tidak ada terapi khusus untuk anak down syndrome. Namun penanganan anak down syndrome ini harus holistik atau melibatkan banyak orang, mulai dari orang tua, keluarga besar, dokter, hingga psikolog.

Lalu yang tidak kalah penting adalah komunitas down syndrome. Pada komunitas ini, orang tua bisa bergabung dan saling sharing sehingga mereka tidak merasa sendiri.

“Kita juga butuh dokter rehabilitas medis karena anak ini harus di fisioterapi sebab adanya keterlambatan bicara. Jadi, benar-benar banyak bidang keilmuan yang terlibat dalam penanganan anak down syndrome ini,” ucapnya.

Terdapat tiga jenis down syndrome, yaitu trisomi reguler, mozaik, dan translokasi. Trisomi reguler yang paling sering terjadi, bahkan mencapai 94% dari total populasi yang mengalami down syndrome. Tetapi, secara gejala hingga penanganannya tidak ada yang berbeda.

Annisa menganjurkan para ibu untuk melakukan screening, utamanya pada masa-masa sebelum hamil dan pada saat kehamilan. Ketika telah terdeteksi lebih awal, maka dokter anak bisa langsung melakukan penanganan yang sesuai.

“Tujuan screening itu kan agar tidak ada keterlambatan dalam penanganan. Semisal ada jantung bocor ataupun gangguan pendengaran, bisa segera ditangani,” ucapnya.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Choirul Anam
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper