Peternak Ayam Petelur Khawatirkan Harga Jagung

Peternak ayam petelur di Blitar was-was harga jagung terus naik sehingga biaya produksi pakan ternak terkerek dan tidak sesuai lagi dengan keekonomian usaha.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  21:08 WIB
Peternak Ayam Petelur Khawatirkan Harga Jagung
Aktivitas Koperasi Putera Blitar. - Ist

Bisnis.com, MALANG — Peternak ayam petelur di Blitar was-was harga jagung terus naik sehingga biaya produksi pakan ternak terkerek dan tidak sesuai lagi dengan keekonomian usaha.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar Sukarman mengatakan dalam lima hari terakhir harga jagung pipil dengan kadar air 16%-17% naik dari Rp4.700-Rp4.900/kg menjadi Rp5.000-Rp5.200/kg. Harga jagung sebesar itu jauh dengan patokan dari pemerintah sebesar Rp3.150/kg-Rp4.000/kg dan rencananya direvisi menjadi Rp3.500-Rp4.500/kg.

“Jadi harga jagung di pasar jauh melampaui harga patokan dari pemerintah,” katanya dihubungi dari Malang, Kamis (6/2/2020).

Peternak khawatir, harga jagung pipil kering terus naik. Hal itu terjadi karena di pasar, stok jagung diperkirakan berkurang karena pada periode Desember-Januari petani baru menanam jagung bersamaan dengan datangnya musim hujan. Panen jagung baru dimulai pada Maret-April.

Oleh karena itulah, pada Desember lalu peternak yang tergabung dalam Koperasi Putera Blitar mendatangi Kementan. Intinya, peternak ayam petelur meminta izin diberikan hak untuk impor jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam selama November 2019-Maret 2020.

“Kami meminta izin impor sebanyak 300.000 ton jagung,” ungkapnya. Namun Kementan berkukuh tidak memberikan izin dengan pertimbangan stok jagung di pasar sebenarnya berlimpah dengan berhasilnya Indonesia meraih swasembada komoditas tersebut.

Namun di lapangan, kata dia, justru terbukti berbeda. Ada indikasi stok jagung di pasar tidak sebanyak yang diperkirakan pemerintah. Hal itu diandai dengan harga komoditas yang justru menunjukkan tren menaik.

Dia meminta, pemerintah turun ke lapangan untuk mengatasi kondisi tersebut, yakni mencegah harga jagung terus naik dengan meminta pedagang besar jagung mengeluarkannya di pasar agar pasokan bertambah. Perusahaan pakan ternak, feed mill, juga diharapkan tidak menyerap besar-besaran jagung petani dalam jumlah besar saat belum memasuki musim panen.

Sebenarnya, kata dia, jika kenaikan biaya produksi bisa diikuti dengan kenaikan harga telur di pasar maka peternak tidak mempersalahkan jika harga jagung naik.

Namun problemnya, jika harga telur naik jauh melampaui harga patokan, pemerintah akan turun tangan dengan melakukan aksi operasi pasar. Dampaknya, harga telur bisa turun drastis sehingga merugikan peternak.

Data terakhir, jumlah peternak ayam di Blitar mencapai 4.423 dengan populasi ayam sebanyak 21 juta ekor.

Produksi telur ayam dari ayam sebanyak itu, mencapai 900 ton/hari, sedangkan kebutuhan pakan jagung mencapai 1.000 ton/hari.(K24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung, telur ayam

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup