PHRI Jatim Bakal Gelar Pelatihan Optimalisasi Teknologi Digital

Pertumbuhan hotel yang cukup masif terutama di segmen bintang 2 dan melati saat ini menuntut pengusaha agar mau mengikuti perkembangan teknologi yang makin canggih.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 26 Desember 2019  |  16:59 WIB
PHRI Jatim Bakal Gelar Pelatihan Optimalisasi Teknologi Digital
Pengunjung menikmati pemandangan di salah satu hotel yang kini tingkat hunian atau okupansinya mulai meningkat di Malang, Jawa Timur, Senin (17/12/2018). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, SURABAYA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur pada tahun depan berencana untuk memberikan pelatihan untuk pelaku usaha hotel dalam memanfaatkan teknologi digital melalui kerja sama dengan online travel agent (OTA).

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono mengatakan pertumbuhan hotel yang cukup masif terutama di segmen bintang 2 dan melati saat ini menuntut pengusaha agar mau mengikuti perkembangan teknologi yang makin canggih.

"Untuk itulah hotel-hotel harus bisa berkolaborasi dengan OTA seperti Traveloka, Pegi-Pegi, Booking.com dan Tiket.com agar bisa survive," katanya, Kamis (26/12/2019).

Menurutnya, anggota PHRI harus bisa menguasai OTA terutama hotel-hotel di daerah agar tidak tertinggal, sekaligus bisa mempromosikan hotel dan wisata lokal.

"Anggota PHRI bukan cuma yang bintang 5 saja, tapi yang bintang 3, 2, guest house dan melati pun ada dan mereka butuh penguasaan OTA," imbuhnya.

Dwi mengungkapkan, rerata okupansi hotel di Jatim saat ini masih sekitar 40% - 50%. Kondisi tersebut juga bergantung pada momen tertentu, ketika high season biasanya okupansi meningkat terutama di daerah wisata, sedangkan saat low season hotel berkonsep bisnis di perkotaan yang meningkat.

"Nah pada saat high season inilah sebenarnya daerah wisata kecipratan untung seperti Batu dan Banyuwangi sehingga memang perlu memanfaatkan OTA untuk mempromosikan akomodasinya," katanya.

Selain itu, industri hotel saat ini justru bersaing dengan virtual hotel operator (VHO) seperti RedDoorz, Oyo dan Airbnb.

Menurutnya, jika hotel yang bekerja sama dengan VHO masih bisa terdeteksi dan jelas izin usahanya, tapi ketika sebuah kos-kosan atau rumah biasa yang memanfaatkan aplikasi VHO tersebut tidak bisa tedeteksi keberadaanya bahkan cukup meresahkan industri hotel.

"Apalagi mereka tidak punya izin pendirian hotel lalu menyewakan hunian dengan harga sangat rendah karena mereka tidak punya beban operasional. Berbeda dengan hotel yang resmi," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
phri, jawa timur

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup