Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi Puasa & Lebaran, Peternak Blitar Minta Pemerintah Jaga Harga Pakan

Peternak ayam petelur meminta pemerintah menjaga harga jagung pada level wajar guna menahan laju kenaikan harga telur yang rutin naik drastis menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2019.
Asip Hasani
Asip Hasani - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  11:30 WIB
Hadapi Puasa & Lebaran, Peternak Blitar Minta Pemerintah Jaga Harga Pakan
Sejumlah peternak seeing melakukan penyortiran dan pengepakan did sebuah gudang telur di Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Rabu (27/3) - Asip Hasani

Asip Hasani (K40)

Bisnis.com, BLITAR -- Peternak ayam petelur meminta pemerintah menjaga harga jagung pada level wajar guna menahan laju kenaikan harga telur yang rutin naik drastis menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2019. 

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar, Sukarman, mengatakan bahwa kenaikan rutin harga telur di bulan puasa dan lebaran merupakan hal yang sulit dihindari lantaran permintaan naik sementara pasokan dari peternak tetap. 

"Peternak tidak bisa begitu saja menaikkan produksi. Tapi pemerintah bisa menjaga harga pakan khususnya jagung seperti harga saat ini. Agar ketika permintaan telur naik harga di tingkat peternak bisa ditekan," ujarnya  kepada Bisnis Indonesia di Blitar, Selasa (26/3). 

Menurut Sukarman, harga jagung kering saat ini di tingkat petani adalah antara Rp 3.900 hingga Rp 4.000 per kilogram atau Rp 4.100 hingga Rp 4.200 sampai di tangan peternak. 

Dengan harga bahan pakan yang lain saat ini, konsentrat Rp 7.350 per kilogram dan bekatul Rp 3.600 per kilogram, maka harga pakan siap pakai adalah Rp 5.400 hingga Rp 5.500 per kilogram. 

"Agar peternak untung, dengan harga pakan jadi tersebut harga telur di tingkat peternak harus di kisaran Rp 19.000 hingga Rp 20.000. Saat ini harga memang di kisaran tersebut," jelasnya. 

Menurutnya, situasi pasar yang menguntungkan bagi peternak seperti saat sekarang baru berlangsung kurang dari 2 bulan. Sebelumnya, lanjut Sukarman, harga jagung mulai semester kedua 2018 merangkak naik dari Rp 4.500 hingga Rp 6.500 per kilogram sampai awal 2019. 

Turunnya harga jagung sejak akhir Februari, ujarnya, selain karena kebijakan pemerintah mengimpor jagung juga disebabkan oleh meningkatnya pasokan jagung dari dalam negeri seiring masa panen yang akan berlangsung hingga sekitar bulan Agustus mendatang. 

"Jadi kami mendukung impor jagung jika itu bisa menstabilkan harga. Dan menurut hitungan kami, petani sudah untung dengan harga jagung Rp 3.600 di petani. Apalagi sekarang sudah mendekati Rp 4.000," jelasnya. 

Sukarman menambahkan bahwa dengan harga jual telur seperti sekarang pihak peternak mampu membeli jagung paling mahal Rp 4.500 per kilogram di tingkat peternak. 

Menurut Sukarman, hal mustahil bagi peternak terutama skala menengah ke bawah untuk meningkatkan produksi telur jika hanya untuk  mengantisipasi lonjakan permintaan selama bulan puasa dan lebaran. 

Sukarman menjelaskan, jika peternak diminta menaikkan produksi telur berarti peternak sudah harus membeli bibit ayam (DOC) setidaknya lima bulan lalu. Karena, tambahnya, ayam petelur mulai berproduksi maksimal pada umur 8 bulan. 

"Kalau setelah lebaran harga turun hingga level merugikan, mau dikemanakan ayamnya?" tutur Sukarman. 

Di wilayah Kabupaten Blitar terdapat sekitar 4.420 peternak dengan jumlah produksi telur segar di kisaran 900 ton hingga 1.200 ton per hari.

Di tingkat nasional, Blitar mengontribusi antara 30 persen hingga 40 persen total produksi telur nasional. 

Guna memenuhi kebutuhan pakan ternak, Blitar tiap hari membutuhkan sekitar 1.250 ton, konsentrat sekitar 850 ton, dan bekatul sekitar 400 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pakan ternak peternak blitar
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top