Eksploitasi Berita Prostitusi Artis Tidak Punya Kepentingan Publik

Tokoh pers Karni Ilyas menilai berita prostitusi yang melibatkan artis dan ramai ditayangkan di berbagai media secara berturut-turut tidak memiliki kepentingan publik.
Peni Widarti | 09 Februari 2019 05:54 WIB
Dari kiri ke kanan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Tokoh pers Karni Ilyas, Ketua Forum Pemred Kemal E. Gani, Komnas Perempuan Mariana Aminuddin, dan artis Cathy Sharon saat menerima suvenir dari Forum Pemred, Jumat (8/2/2019). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA — Tokoh pers Karni Ilyas menilai berita prostitusi yang melibatkan artis dan ramai ditayangkan di berbagai media secara berturut-turut tidak memiliki kepentingan publik.

"Saya enggak suka kalau privasi seseorang diulik. Saya berkali-kali ngamuk di media saya, ngapain kabar pelacuran dan ganjen banget. Kasus-kasus semacam itu tidak ada kepentingan umum sama sekali, itu privasi orang," jelasnya saat menjadi narasumber The Editor's Talk oleh Forum Pemred, Jumat (8/2/2019).

Karni mengatakan dirinya punya kebijakan bahwa kasus prostitusi online yang menyeret artis VA itu sama halnya dengan kasus perselingkuhan yang tidak ada kepentingan publik.

"Kecuali kalau gambar-gambar porno itu disebar bahkan sampai ke anak-anak. Jadi apa sih kepentingan umumnya dalam kasus itu? Bagi saya agak tanda tanya," ujarnya.

Menurut Karni, seseorang boleh diekspos kalau sudah menjadi tersangka, bahkan privasi keluarganya tidak boleh diekspos karena itu akan menghancurkan masa depan seseorang.

Karni menambahkan, dirinya setuju ada larangan dari KPI jika anak-anak sebagai korban agar identitasnya disembunyikan. Namun, jika korban itu sudah meninggal, maka identitas tidak perlu disembunyikan atau disamarkan.

"Ini karena kita mau memperjuangkan suara korban yang sudah meninggal, yang bisa kita tolong adalah keadilan untuk dia. Saya mewakili suara korban-korban yang sudah tidak bisa bersuara lagi. Itulah fungsi pers, kalau semua ditutup saya tidak bisa memperjuangkan itu," imbuhnya.

Indonesia Chief Editors Forum (Forum Pemred) menggelar The Editor's Talk bertajuk media meliput perempuan dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) di Garden Palace Hotel Surabaya.

Ketua Forum Pemred, Kemal E. Gani mengatakan diskusi tentang meliput perempuan yang bercermin dari kasus Vanessa Angle dan Baiq Nuril ini bertujuan untuk membuka pengetahuan media dalam menyikapi dan memberitakan perempuan yang sering kali menjadi korban.

"Hari ini kita ambil tema media meliput perempuan, ini enggak baru karena sudah beberapa kali terjadi. Jadi bagaimana kami merasa bahwa media memperlakukan kasus yang menyangkut wanita, tindakan asusila, dan itu tidak seimbang karena di sana ada konsumen, ada penawar ada pelaku," jelasnya saat membuka The Editor's Talk, Jumat (8/2/2019).

Dia mengatakan dari setiap kasus yang melibatkan wanita menjadi korban atau pelaku, sering kali hanya pihak wanita yang diekspos. Bahkan bukan hanya kasusnya, tapi sampai keluarganya dan privasinya.

"Itu sudah tidak proporsional lagi, dan kami tidak ingin hal ini terjadi lagi. Kita ingin peliputan kita lebih fair dan proporsional," imbuhnya.

Kemal menambahkan, diskusi yang menghadirkan tokoh pers Karni Ilyas, Komnas Perempuan Mariana Aminuddin, artis Cathy Sharon dan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera itu diharapkan membawa semangat kebersamaan perusahaan pers dalam memberikan program berita yang bermanfaat bagi bangsa dan negara serta perkembangan media ke depan.

Azaz Praduga

Komisi Nasional Perempuan meminta agar media maupun pihak kepolisian untuk mengutamakan asas praduga tak bersalah dalam menangani dan memberitakan kasus yang melibatkan perempuan sebagai korban maupun pelaku.

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Aminuddin mengatakan sering kali dalam pemberitaan yang melibatkan perempuan tidak mendahulukan asas praduga tak bersalah, bahkan kasus Vanessa Angle yang akhir-akhir ini mengisi ruang media berkepanjangan sudah masuk ke ranah privat

"Di UU Pers itu sudah disebutkan bagaimana menjaga perempuan dan menjaga kasus asusila, dan privasinya. Kebanyakan kasus yang diadukan ke kami itu adalah masalah pribadi. Celakanya, yang pribadi ini laku untuk dibaca orang," katanya saat menjadi pembicara The Editor's Talk oleh Forum Pemred, Jumat (8/2/2019).

Dia mengatakan kebanyakan media bukan hanya mengangkat kasusnya tapi bahkan identitas pribadi para artis yang terduga dalam kasus prostitusi online.

Meski begitu, Mariana tidak menyalahkan polisi dalam memberikan informasi kepada media sebagai bentuk keterbukaan instansi pemerintah kepada publik.

Dia mengusulkan agar polisi punya penanganan khusus terhadap kasus pribadi atau yang bukan menyangkut kepentingan umum. Bahkan dengan kata lain, polisi harus merahasiakan dulu identitas korban/pelaku selama masih dalam proses penyidikan.

"Kembali kepada yang saya katakan di awal, prinsip asas praduga tak bersalah harus dilakukan. Menjada area privat dan tidak menyebar kebohongan seperti yang terjadi pada nama artis Cathy Sharon yang namanya ikut disebut," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Cathy Sharon yang namanya sempat masuk dalam daftar pelaku prostitusi online melalui pemberitaan media, berharap agar pelaku yang menyebarkan namanya sebagai pelaku prostitusi dapat ditangkap.

"Saya berharap kalau pelaku bisa ditangkap saya senang sekali. Perspektif saya, untuk media ke depan kalau ada kasus seperti ini ada baiknya memilah mana ranah privat dan publik, karena saya sebagai pembaca dan wanita kalau bisa berita yang keluar adalah empati pada wanita," jelasnya.

Tag : prostitusi
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top