Bulog Malang Gelontorkan 26.000 Ton Beras Lewat Operasi Pasar

Bulog Malang menggelontorkan 26.000 ton beras lewat kegiatan Operasi Pasar (OP) Ketersediaan Pasokan dan Stabilitas Harga Beras Medium 2019.
Choirul Anam | 03 Januari 2019 13:21 WIB
Wali Kota Malang Sutiaji (kiri) memeriksa kualitas beras Operasi Pasar (OP) Bulog di gudang milik Bulog pada kegiatan "OP Beras: Ketersediaan Pasokan dan Stabilitas Harga Beras Medium 2019" di Malang, Kamis (3/1/2019). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Bulog Malang menggelontorkan 26.000 ton beras lewat kegiatan Operasi Pasar (OP) Ketersediaan Pasokan dan Stabilitas Harga Beras Medium 2019.

Kepala Bulog Malang Fachria Latuconsina mengatakan OP digelar sesuai perintah Presiden Joko Widodo dan Direktur Utama (Dirut) Bulog untuk menjaga agar harga beras, terutama kualitas medium, tetap stabil sebagai upaya mengantisipasi kenaikan harga karena pasokan di pasar masih rendah. Hal itu terjadi karena dalam beberapa bulan ke depan masih memasuki musim tanam padi.

“Lewat OP, diharapkan harga beras medium tidak sampai melonjak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni sebesar Rp9.450 per kilogram (kg),” ujarnya di tengah-tengah peluncuran "OP Beras:  Ketersediaan Pasokan dan Stabilitas Harga Beras Medium 2019" di Malang, Kamis (3/1/2019).

Harga beras yang dijual Bulog di pasar dengan kemasan 5 kg dipatok sebesar Rp8.550 per kg. Namun, jika masyarakat mengambil sendiri di gudang Bulog dipatok sebesar Rp8.100 per kg. Saat ini, harga beras medium di pasar di kisaran Rp9.500-Rp10.000 per kg.

Untuk hari pertama, dikucurkan 15 ton beras yang dijual di Pasar Besar, Pasar Dinoyo, dan Pasar Blimbing, serta Rumah Pangan Kita (RPK) yaitu gerai yang menjual bahan kebutuhan pokok yang disediakan Bulog. Selanjutnya, OP beras juga menjangkau pasar-pasar tradisional secara luas serta lingkungan perumahan di tingkat kelurahan.

“Dengan stok sebanyak 26.000 ton, sangat mencukupi untuk kebutuhan OP sepanjang 2019 karena serapan beras medium hanya mencapai 585 ton,” lanjut Fachria.

Wali Kota Malang Sutiaji menerangkan OP menunjukkan bahwa pemerintah mengantisipasi secara riil potensi kenaikan harga beras memasuki musim tanam. Dengan ketersediaan stok beras berkualitas baik dari Bulog dan harga yang terjangkau, masyarakat diharapkan dapat merespons dengan positif.

Dengan demikian, harga beras diharapkan tetap stabil saat pasokan di pasar berkurang karena belum memasuki musim panen.

"Saya sudah memeriksa sendiri beras Bulog. Kualitasnya baik, baunya harum, dan tidak berkutu,” tuturnya.

Kasi Statistik dan Distibusi Badan Pusat Statistik Kota Malang Dwi Handayani Prasetyawati mengklaim OP beras yang digelar Bulog telah efektif menekan harga komoditas pangan tersebut di Kota Malang. Bahkan, pada 2018, beras mengalami deflasi sebesar 5,5539% dan turut menjadi penghambat inflasi.

“Pada bulan tertentu harga beras memang sempat naik. Namun, jika dirata-ratakan justru terjadi deflasi, penurunan harga,” ucapnya.

Kepala Tim Advisory Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Malang Jaka Setyawan menyampaikan hal serupa. OP beras yang digelar Bulog Malang efektif meredam kenaikan harga karena digelar setiap hari. Dengan OP, komoditas pangan tersebut mudah diperoleh warga dan jika dilakukan terus menerus dapat memberikan efek psikologis bagi pasar bahwa pasokan beras mencukupi sehingga dapat menstabilkan harga.

Dia menegaskan penetapan HET beras oleh pemerintah ternyata efektif meredam kenaikan harga. Pasalnya, pedagang tidak berani semena-mena menaikkan harga.

Kehadiran Satgas Pangan juga dinilai dapat menekan permainan harga di pasar.
 

Tag : bulog, Harga Beras
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top