Bakal Punya Jalan Tol, Ini Rencana Kota Malang Kembangkan Pariwisata

Oleh: Choirul Anam 10 Agustus 2018 | 20:43 WIB
Mahasiswa asing terkesan dengan kegiatan seni budaya Polowijen sehingga bersedia membantu mem-branding objek wisata tersebut agar lebih dikenal wisatawan mancanegara./Istimewa

Bisnis.com, MALANG – Kota Malang, Jawa Timur, akan memiliki jalan tol di tengah kota untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan rencananya investor sebenarnya tidak hanya membangun tol dalam Kota Malang, melainkan juga mengakses ke Kabupaten Malang dan Kota Batu.

“Keberadaan tol tersebut yang diharapkan dapat dikerjakan pada 2020 tentu sangat membantu dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata di Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang,” ujarnya di Malang pada Jumat (10/8/2018).

Dengan adanya tol tersebut, wisatawan nantinya tidak perlu terjebak dalam kemacetan menuju objek destinasi wisata. Seperti dari Kota Malang menuju Batu, tidak perlu melewati Dinoyo yang macet.

Untuk mematangkan rencana tersebut, dia akan bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko 2 pekan lagi.

Pemkot Malang, lanjutnya, juga tidak menyia-nyiakan pembangunan tol tersebut dengan mengembangkan sektor pariwisatanya.

Yang akan dikembangkan, objek destinasi wisata berupa Kampung Arema. Di dalam kampung tersebut, tidak hanya dibangun secara artifisial, seperti mengecat dengan warna biru, tapi betul-betul sebuah kampung yang menyeluruh.

Di sana, ada atraksi budayanya, arstitetur bangunan, kuliner, maupun aktivitas keseharian masyarakat dalam bertutur yang khas Malang.

Dia masih mencari lokasi yang pas untuk dibangun sebagai Kampung Arema. Namun, model kampung yang mendekati ideal yang diharapkan, sebenarnya sudah ada, yakni Kampung Budaya Polowijen.

Di sana ada aktivitas menari topeng Malangan setiap setiap akhir pekan. Juga ada gerai yang memamerkan dan menjual topeng kayu Malangan.

Di kampung tersebut juga aktivitas perajin yang membuat topeng kayu Malangan karena di sana merupakan asal-usul topeng tersebut berasal.

Jika Kampung Budaya Polowijen dipilih, lanjutnya, harus dibenahi dulu akses jalan dan lahan parkirnya karena saat ini masih kurang memadai.

Yang juga perlu dilakukan, memasukkan Kampung Budaya Polowijen dalam Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Malang sehingga pembenahan wilayah tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan dana APBD.

Isa Wahyudi atau yang dikenal Ki Demang Polowijen, penggiat kebudayaan Malangan, mengatakan Kampung Budaya Polowijen tidak identik dengan budaya Arema.

Budaya Arema, menurut dia, intinya adalah budaya arek yang mengedepankan semangat egaliter dan kebebasan. Pusat-pusat kegiatan mereka sebenarnya justru ada di gang-gang di kampung-kampung.

Budaya Arema, ujarnya, sebenarnya merupakan budaya campuran dari budaya-budaya lain yang melebur menjadi satu identitas yang satu, Arema. “Jadi kalau mengembangkan, ya, di gang-gang itu pusatnya,” ujarnya.

Sedangkan di Polowijen, ujarnya, lebih pada upaya merawat dari warisan leluhur berupa budaya asli Malang kuno pada tarian, kuliner, pembuatan topeng, dan lainnya. “Jadi, kalau mengembangkan Polowijen, aspeknya itu. Kekunoannya, bukan kekiniannya,” ujarnya.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya